Studi Mengatakan Krisis Iklim Mempercepat Resistensi Antibiotik di Seluruh Dunia
Rabu, 27 Mei 2026, 13:17 WIBPara ahli mengatakan bahwa krisis iklim mempercepat peningkatan resistensi antibiotik global yang menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia, seiring dengan data yang menunjukkan peningkatan gen resistensi antibiotik pada bakteri salmonella.
Dari The Guardian, resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman yang paling cepat berkembang terhadap kesehatan global. Hal ini dapat memengaruhi orang dari segala usia di negara mana pun dan telah membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya, menurut perkiraan.
Kini, sebuah studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Inggris, Prancis, Australia, Swiss, dan Tiongkok, telah mengungkap bagaimana perubahan iklim terkait dengan meningkatnya resistensi antibiotik pada salmonella, salah satu penyakit bakteri paling umum di dunia.
Perubahan iklim dikaitkan dengan peningkatan global sebesar 10 persen pada gen resistensi antibiotik salmonella antara tahun 1940 dan 2023, menurut studi pertama sejenisnya yang telah diterbitkan dalam jurnal Lancet Planetary Health .
Penyebab utama resistensi antibiotik masih tetap penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan, yang digunakan untuk mengobati infeksi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa masalah ini diperburuk oleh perubahan iklim.
âBukti yang terkumpul menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan kekuatan yang mempercepat penyebaran resistensi antimikroba secara global,â tulis para penulis studi tersebut .
âTemuan kami memberikan bukti pendukung bahwa peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan secara non-linier memperkuat kelimpahan dan penyebaran gen resistensi antimikroba pada patogen bakteri seperti salmonella.
âTemuan ini memperkuat gagasan bahwa perubahan iklim mengubah stabilitas ekologis mikroba dan mempercepat evolusi resistensi di berbagai reservoir manusia, hewan, dan lingkungan.
âIntegrasi mendesak kebijakan mitigasi perubahan iklim, khususnya yang selaras dengan perjanjian Paris â dengan peningkatan pengelolaan antimikroba dan pengawasan One Health â sangat penting untuk mengurangi beban resistensi antimikroba di masa depan.â
Resistensi antimikroba terutama disebabkan oleh penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik, yang memungkinkan bakteri resisten untuk bertahan hidup dan menyebar. Namun, kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi cara bakteri bertahan hidup, bermutasi, dan menyebar, yang berpotensi meningkatkan pertukaran gen resistensi antibiotik, kata para peneliti.
Studi sebelumnya telah mengaitkan suhu yang lebih tinggi dengan tingkat bakteri resisten yang lebih besar, tetapi hingga saat ini studi kuantitatif global tentang hubungan tersebut masih terbatas.
Studi baru ini menganalisis genom lebih dari 480.000 sampel salmonella dari 139 negara yang dikumpulkan antara tahun 1940 dan 2023. Tingkat gen resistensi antibiotik dibandingkan dengan perubahan suhu rata-rata dan curah hujan dari waktu ke waktu.
Dengan menggunakan model untuk mempelajari hubungan tersebut, para peneliti menemukan bahwa resistensi antibiotik tidak hanya meningkat secara stabil seiring kenaikan suhu, tetapi jumlah gen resistensi berubah dari waktu ke waktu dengan cara yang lebih kompleks bergantung pada suhu dan curah hujan.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat mempercepat adaptasi bakteri terhadap antibiotik, menurut para peneliti.
Studi tersebut menemukan bahwa 82 persen negara yang diteliti mengalami peningkatan gen resistensi antibiotik pada salmonella. Peningkatan yang paling kuat terkait iklim ditemukan di Timur Tengah dan Afrika Utara, diikuti oleh Asia Selatan, dan Afrika Sub-Sahara.
Studi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara perubahan iklim dan gen resistensi antibiotik pada salmonella, tetapi tidak membuktikan bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan peningkatan tersebut. Namun, para penulis mengatakan bahwa temuan mereka menyoroti perlunya mempertimbangkan perubahan iklim dalam upaya global untuk mengatasi resistensi antibiotik.
Tindakan mendesak, bersamaan dengan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab dan peningkatan pengawasan penyakit, akan menjadi kunci untuk membatasi penyebaran resistensi antibiotik di masa depan, tambah mereka.
Studi mereka memberikan "bukti kuat" bahwa perubahan iklim terkait dengan peningkatan risiko resistensi antibiotik, kata mereka.
âTemuan ini menekankan bahwa menggabungkan upaya mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan antibiotik, seperti mematuhi skenario emisi rendah, dapat secara efektif mengekang penyebaran gen resistensi antimikroba dan peningkatan resistensi antimikroba global.â
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Arema FC Dapat Lampu Hijau Berkandang di Stadion Kanjuruhan
-
Bupati Beltim: Pengelolaan Sampah Banyumas Layak Jadi Contoh Nasional
-
Program Rumah untuk Media, Menteri PKP Ajak Wartawan untuk Ikut Mengawasi
-
Investor Tunggu Data PDB AS dan Sinyal Kebijakan The Fed, Berikut Proyeksi Rupiah Tengah Pekan Ini
-
Polandia-Indonesia Sepakat Genjot Volume Perdagangan Bilateral
-
Pelabuhan Jangkar Situbondo Disiapkan Jadi Penyangga Bali, Solusi Macet Ketapang-Gilimanuk
-
Marvel Lanjutkan Serial “Wonder Man” ke Season 2
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.