Investor Tunggu Data PDB AS dan Sinyal Kebijakan The Fed, Berikut Proyeksi Rupiah Tengah Pekan Ini
Rabu, 30 Jul 2025, 09:00 WIBJAKARTA â Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpoÂtensi melanjutkan pelemahannya tengah pekan ini. SentiÂmen yang mempengaruhi pelemahan rupiah diperkirakan masih berasal dari global.Â
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat investor mengantisipasi serangkaian data penting ekonomi Amerika Serikat (AS), seperti produk domestik bruto (PDB) yang diperkirakan tumbuh kuat 2,4 persen secara tahunan pada kuartal II-2025. Selain itu, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga diperkirakan akan mempertahanÂkan suku bunga atau hawkish.
Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terÂhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarÂbank, Rabu (30/7), masih akan tertekan di kisaran 16.350 - 16.500 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (29/7), di Jakarta melemah sebesar 45 poin atau 0,28 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.409 rupiah per dollar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan peleÂmahan kurs rupiah dipengaruhi negosiasi Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok yang akan memperpanjang pengeÂnaan tarif baru yang memberikan sentimen positif terhadap indeks dollar AS. âKesepakatan dagang Amerika dan TiongÂkok terakhir diperkirakan akan diperpanjang jeda pengenaÂan tarif baru seiring dengan semakin dekatnya batas waktu realisasi tarif pada 1 Agustus,â katanya di Jakarta.
Pemerintah Tiongkok, menjelang pertemuan lanjutan di Swedia, mengaku masih berharap AS dapat terus melanjutÂkan kesepakatan yang dicapai sebelumnya terkait perang dagang.
Perwakilan dari Tiongkok dan AS yaitu Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent diketahui bertemu pada Senin-Selasa, 28-29 Juli 2025 di Stockholm, Swedia, untuk membahas tarif daÂgang kedua negara.
Pertemuan di Swedia itu adalah tatap muka lanjutan seÂtelah di Jenewa, Swiss pada Mei 2025 dan di London, IngÂgris, pada Juni 2025 dimana barang AS ke Tiongkok telah dipangkas tarifnya menjadi 10 persen, sementara barang-barang Tiongkok ke AS terkena tarif 30 persen.
Namun, keputusan pertemuan sebelumnya punya tengÂgat waktu yaitu 90 hari dan akan berakhir pada 12 Agustus 2025. Sebelumnya, bea impor terhadap produk Tiongkok yang masuk ke AS adalah sebesar 145 persen sedangkan Tiongkok menetapkan tarif 125 persen terhadap produk AS.
Pertemuan Stockholm tersebut terjadi di tengah ancamÂan kenaikan tarif impor barang ke AS seperti yang disamÂpaikan Presiden Donald Trump, efektif berlaku 1 Agustus. Tarif yang lebih tinggi, yang diancamkan terhadap mitra dagang AS adalah sebesar 10-50 persen. n
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
DLH Mimika Alokasikan Rp18 Miliar untuk Gaji Petugas Kebersihan, Total 182 Orang
-
Rutin Bersih-bersih Lingkungan untuk Mendukung Gerakan Indonesia ASRI
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
-
Konser di ICE BSD, aespa Akui Waktu di Jakarta Selalu Terburu-Buru
-
Mensos Tegaskan Rencana Penerapan WFA Tidak Ganggu Pelayanan Sosial
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.