Sport Tourism Jadi Senjata Baru Jatiluwih Tarik Wisatawan
Rabu, 27 Mei 2026, 18:25 WIBDENPASAR â Sport tourism kini bukan cuma soal olahraga, tapi juga jadi cara baru untuk memperkuat citra pariwisata suatu daerah.
Lewat event lari, balap sepeda, surfing, hingga kompetisi internasional lainnya, sebuah daerah bisa lebih dikenal luas sekaligus menarik wisatawan datang langsung.
Pengunjung yang hadir bukan hanya menonton pertandingan, tetapi juga ikut menikmati kuliner, budaya, dan destinasi wisata setempat.
Dampaknya juga terasa ke ekonomi lokal karena hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku UMKM ikut kebagian peluang dari ramainya kunjungan wisatawan.
Karena itu, banyak daerah mulai melihat sport tourism sebagai strategi promosi yang efektif, terutama untuk membangun branding daerah agar lebih modern, aktif, dan punya daya tarik berbeda dibanding destinasi lainnya.
Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih tahun ini merangkaikan Jatiluwih Festival dengan ajang lari santai Bali Tourism Run untuk memperkuat citra pariwisata kawasan.
âSalah satu tujuan kami memperkuat citra agar peserta tahu Jatiluwih saat ini aman-aman saja, karena ya saat ada kasus pemasangan seng, kunjungan Jatiluwih itu turun banget, akhirnya yang dirugikan masyarakat sendiri,â kata Manager Operasional DTW Jatiluwih John Ketut Purna di Denpasar, Rabu (27/5).
Diketahui belum lama DTW Jatiluwih dihadapkan pada konflik pelanggaran tata ruang, dimana sejumlah usaha pariwisata yang membuat bangunan di area subak berstatus Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO itu disegel pemerintah, hingga akhirnya muncul perlawanan dengan memasang pagar seng.
Setelah konflik mereda dan menemukan jalan tengah, masyarakat dan pengelola sepakat kembali mengadakan Jatiluwih Festival untuk menarik kunjungan wisatawan.
Ajang lari santai menyusuri subak Jatiluwih kemudian dipilih, bekerja sama dengan Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) dan Pemprov Bali.
John menilai dengan mengajak wisatawan berlari melihat langsung kawasan akan memperkuat citra Jatiluwih sebagai destinasi berkualitas yang merawat alam dan masyarakatnya kompak.
Jatiluwih Festival sendiri digelar pada 20-21 Juni 2026 dimana pada hari pertama masyarakat akan mengadakan pertunjukan-pertunjukan hiburan dan memberi pengalaman langsung bertani di sawah, khususnya memanen karena momen tersebut bertepatan dengan musim panen.
Pada hari kedua ditargetkan 2.000 peserta lari santai bergabung untuk menikmati khasnya pariwisata di Jatiluwih, yaitu hamparan sawah berundak yang sedang di masa panen raya.
Untuk semakin mensejahterakan petani dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal, selama kegiatan akan disediakan puluhan UMKM produk pangan lokal.
Para pengunjung DTW yang membeli tiket lari santai akan mendapat paket kupon berbelanja di UMKM, sehingga pelaku usaha tak perlu khawatir produknya tidak laku dan peserta merasakan pengalaman positif sepanjang acara.
Dengan begitu maka festival yang masuk jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN) ini bisa kembali mendapatkan hati wisatawan, dimana pascakonflik pagar seng kunjungan sempat turun ke angka 500-600 kunjungan per hari dari yang sebelumnya bisa menembus 1.000 kunjungan.
Ekonom yang merupakan Mantan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali Trisno Nugroho memandang langkah kolaborasi DTW Jatiluwih, Asita, dan Pemprov Bali sangat tepat.
Jika dilihat dari tren kunjungan sepanjang 2026, kunjungan wisman pada bulan Januari, Februari, Maret turun, namun mulai merambat naik sejak April, hingga hari ini 70 persen kunjungan didominasi wisatawan asing.
Dengan DTW Jatiluwih yang pasarnya adalah wisman, maka peluang menggaet wisatawan pada bulan Juni sangat besar, apalagi sejauh ini konflik geopolitik menurutnya tidak banyak mempengaruhi minat wisman justru paling berpengaruh di domestik.
âWisatawan asing karena ada pelemahan rupiah tentunya dia akan merasa lebih murah di Bali, menghitung dia, sehingga yang harus dijaga saat ini adalah kualitas,â kata Trisno.
âPenggunaan ajang lari santai menjadi pilihan tepat, sebab Jatiluwih akan memberi kesan tersendiri karena berlari dikelilingi sawah, dan lari sekarang sudah menjadi gaya hidup, sehingga mata dunia akan tertuju nantinya,â sambungnya.
- sport tourism
- Desa Wisata Jatiluwih
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
“One Way” Nasional Arus Balik Diberlakukan Seiring peningkatan Lalu Lintas ke Jakarta
-
Gubernur Khofifah Optimistis LKS Dikmen Tumbuhkan Talenta Unggul Jatim
-
71 Persen Kendaraan Belum Balik ke Bali, ASDP Warning Puncak Arus Kedua 28-29 Maret
-
Di Tengah Dinamika Global, Pupuk Indonesia Perkuat Ketahanan Produksi & Transisi Hijau
-
Tarif Listrik di Turki Bakal Naik 25 Persen
-
Anfield Terbungkam, Ousmane Dembele Hancurkan Liverpool, Kok Bisa Arne Slot Tetap Sesumbar Masa Depan Cerah?
-
Stadion Tri Lomba Juang Dibenahi, Perkuat Semarang sebagai Destinasi Sport Tourism
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.