• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Studi IBM: CEO di Indonesi...

Studi IBM: CEO di Indonesia Semakin Andalkan AI untuk Ambil Keputusan Strategis

Rabu, 20 Mei 2026, 20:03 WIB

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong para CEO di Indonesia untuk mengubah cara organisasi dijalankan, mulai dari proses pengambilan keputusan hingga struktur kepemimpinan perusahaan. Hal itu terungkap dalam studi terbaru yang dirilis oleh IBM Institute for Business Value.

Dalam studi tahunan IBM CEO Study yang melibatkan 2.000 CEO global, termasuk dari Indonesia, sebanyak 80 persen CEO di Indonesia menyatakan AI telah mengubah cara perusahaan mendefinisikan inti bisnis mereka.

Ket. Foto: Studi IBM mengungkap CEO di Indonesia semakin mengandalkan AI dalam pengambilan keputusan strategis, transformasi organisasi, hingga pengembangan talenta perusahaan. — Sumber: IST

Sementara itu, 90 persen responden mengaku mulai mengintegrasikan AI ke berbagai alur kerja untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional perusahaan. Selain itu, 30 persen CEO di Indonesia menempatkan AI dan modernisasi teknologi sebagai prioritas strategis organisasi dalam tiga tahun ke depan.

Vice Chairman IBM, Gary Cohn, mengatakan peran CEO kini semakin erat dengan kemampuan memimpin di tengah disrupsi teknologi yang berlangsung cepat. Menurut dia, perusahaan yang mampu bertahan dan berkembang adalah organisasi yang menerapkan pendekatan AI-first, yakni menjadikan AI sebagai model operasional utama, bukan sekadar teknologi tambahan.

“Proses pengambilan keputusan akan bergerak semakin cepat, batas antar fungsi dalam organisasi akan semakin melebur, dan keunggulan akan dimiliki oleh perusahaan yang mampu belajar, beradaptasi, serta mengeksekusi lebih cepat dibandingkan kompetitornya,” ujar Gary Cohn dalam laporan tersebut melalui keterangannya pada hari Rabu (20/5).

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa 65 persen CEO di Indonesia merasa nyaman mengambil keputusan strategis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI. Persentase yang sama juga menilai kedaulatan AI atau AI sovereignty menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan.

Meski demikian, tingkat penggunaan AI oleh tenaga kerja dinilai masih terbatas. Para CEO menyebut baru sekitar 26 persen tenaga kerja yang menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaannya, meskipun 80 persen responden percaya karyawan mereka sudah memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan AI.

Secara global, tren pembentukan jabatan Chief AI Officer (CAIO) juga meningkat signifikan. Sebanyak 70 persen organisasi yang disurvei telah memiliki CAIO pada 2026, naik tajam dibandingkan hanya 17 persen pada 2025.

Managing Director IBM Consulting Asia Pacific, Juhi McClelland, menilai kawasan Asia Pasifik kini menjadi salah satu wilayah terdepan dalam mendorong adopsi AI secara global. Perusahaan tidak lagi sekadar melakukan eksperimen AI, tetapi mulai menjadikan teknologi tersebut sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan bisnis.

“Namun, teknologi saja tidak cukup untuk menciptakan dampak nyata. Keberhasilan implementasi AI akan sangat ditentukan oleh bagaimana para pemimpin memberdayakan talenta, merancang ulang peran, menyempurnakan proses kerja, serta menerapkan AI secara bertanggung jawab di seluruh organisasi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan General Manager and Technology Leader IBM ASEAN, Catherine Lian. Ia mengatakan perusahaan-perusahaan di Indonesia kini mulai melampaui tahap uji coba AI dan menjadikannya sebagai penggerak utama daya saing bisnis.

“AI kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai eksperimen, melainkan telah menjadi prioritas bisnis,” kata Catherine.

Studi tersebut juga menyoroti perubahan peran jajaran C-suite di era AI. Sebanyak 85 persen CEO di Indonesia menilai para pemimpin di setiap fungsi bisnis harus memiliki pemahaman teknologi yang kuat.

Sementara itu, seluruh CEO di Indonesia yang organisasinya telah memiliki Chief AI Officer memperkirakan posisi tersebut akan menjadi semakin strategis hingga 2030. Sebanyak 60 persen responden juga memperkirakan peran Chief Human Resources Officer (CHRO) akan semakin penting dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, penggunaan AI dalam proses pengambilan keputusan diperkirakan terus meningkat. Para CEO memperkirakan pada 2030 sekitar 48 persen keputusan operasional dengan aturan dan parameter yang jelas akan diambil sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia. Angka tersebut meningkat dari 24 persen saat ini.

Sebanyak 95 persen eksekutif yang disurvei juga mengaku mulai mendesentralisasi proses pengambilan keputusan dan mendistribusikan tanggung jawab lebih luas seiring semakin besarnya peran AI dalam operasional perusahaan.

Dalam aspek sumber daya manusia, 75 persen CEO di Indonesia menyatakan keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibandingkan teknologinya sendiri. Antara 2026 hingga 2028, para responden memperkirakan 30 persen karyawan perlu menjalani pelatihan keterampilan baru untuk mengisi peran berbeda, sementara 52 persen lainnya membutuhkan peningkatan keterampilan agar dapat bekerja lebih efektif di posisi mereka saat ini.

Secara global, organisasi yang melakukan transformasi di lima area utama bisnis, yakni teknologi, keuangan, SDM, operasional, dan kolaborasi lintas fungsi, tercatat empat kali lebih mungkin mencapai target bisnis mereka.

Selain itu, sebanyak 70 persen responden di Indonesia menilai peran kepemimpinan talenta dan teknologi akan semakin terintegrasi, menunjukkan semakin eratnya hubungan antara strategi talenta, teknologi, dan bisnis perusahaan.

  • digitalisasi
  • IBM
  • CEO
  • SDM
  • kecerdasan buatan (AI)
  • transformasi digital
  • Chief AI Officer (CAIO)
  • Artificial Intelligence
  • IBM Indonesia
  • C-Suite
  • Chief AI Officer
  • Teknologi Bisnis

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.