Kemenkeu Catat Utang Pemerintah Maret 2026 Rp9.920 Triliun, Masih Amankah Kondisi Ekonomi Kita?

Rabu, 13 Mei 2026, 14:05 WIB

JAKARTA - Posisi utang pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional dan tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Per akhir Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski pemerintah menegaskan rasio utang tersebut masih berada dalam batas aman, sejumlah kalangan menilai peningkatan beban bunga serta besarnya kewajiban jatuh tempo mulai memberikan tekanan serius terhadap ruang fiskal negara. Kondisi itu dinilai berpotensi membatasi kemampuan APBN dalam mendukung pembangunan jangka panjang.

Ket. Foto: Posisi utang pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional dan tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Per akhir Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). — Sumber: ANTARA

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kenaikan utang pemerintah harus menjadi alarm serius bagi pengelolaan fiskal nasional. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya soal nominal utang, tetapi kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pembayaran kewajiban dan kebutuhan pembangunan.

"Persoalannya bukan sekadar angka utang masih di bawah batas aman, tetapi bagaimana kemampuan negara membayar bunga dan cicilan tanpa mengorbankan belanja produktif. Ini yang mulai terasa berat," ujar Noviardi, Minggu (10/5).

Ia menyoroti beban bunga utang pemerintah pada 2026 yang diperkirakan mencapai Rp599 triliun. Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya porsi penerimaan negara yang terserap untuk memenuhi kewajiban masa lalu dibandingkan mendukung sektor pembangunan strategis.

"Ketika 16 sampai 22 persen penerimaan negara habis untuk bunga utang, ruang fiskal otomatis menyempit. Pemerintah menjadi kurang leluasa membiayai infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan sosial," katanya.

Menurut Noviardi, kondisi tersebut berpotensi menciptakan rigiditas anggaran. Situasi itu terjadi ketika APBN semakin didominasi oleh belanja wajib dan pembayaran utang sehingga fleksibilitas pemerintah dalam merespons perlambatan ekonomi menjadi semakin terbatas.

Dalam tiga bulan pertama 2026, posisi utang pemerintah juga bertambah Rp282,52 triliun dibanding akhir Desember 2025. Di sisi lain, pemerintah menghadapi kewajiban jatuh tempo utang sekitar Rp833 triliun sepanjang tahun ini.

"Kalau defisit terus melebar, pemerintah akan masuk dalam tekanan refinancing atau gali lubang tutup lubang. Utang lama dibayar dengan utang baru. Dalam jangka pendek mungkin aman, tapi jika terus berlangsung akan menjadi jebakan fiskal," ujarnya.

Ia menjelaskan dominasi Surat Berharga Negara yang mencapai sekitar 87 persen memang membuat struktur pembiayaan lebih fleksibel dibanding pinjaman bilateral maupun multilateral. Namun, ketergantungan tinggi terhadap pasar keuangan juga membuat APBN sensitif terhadap gejolak suku bunga global dan sentimen investor.

Selain itu, utang luar negeri Indonesia yang telah mencapai US$431,73 miliar juga dinilai menyimpan risiko nilai tukar. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembayaran utang sekaligus memicu tekanan terhadap inflasi domestik.

"Kalau kurs melemah tajam, pembayaran utang luar negeri otomatis lebih mahal. Efek lanjutannya bisa menekan daya beli masyarakat karena pemerintah harus melakukan penyesuaian fiskal," katanya.

Meski demikian, Noviardi menilai kondisi fiskal Indonesia masih terkendali karena pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko terus melakukan pengawasan rutin terhadap posisi utang nasional.

Ia menegaskan pemerintah tidak boleh terlena hanya karena rasio utang masih berada di bawah batas 60 persen terhadap PDB. Menurutnya, kualitas penggunaan utang harus menjadi perhatian utama pemerintah.

"Substansi yang mesti dijaga adalah kualitas utang. Utang harus dipakai untuk sektor produktif yang menciptakan pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara baru, bukan sekadar menutup defisit rutin," tegasnya.

Ia mendorong pemerintah memperkuat penerimaan negara, memperluas basis pajak, mengefisienkan belanja tidak produktif, serta mempercepat industrialisasi nasional agar ketergantungan terhadap utang dapat ditekan secara bertahap.

"Utang memang instrumen pembangunan, tetapi tanpa disiplin fiskal yang kuat, utang bisa berubah menjadi beban generasi mendatang," tutupnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Bukan Sekadar Besaran Gaji, Pekerja Indonesia Cari Rasa Dihargai di Tempat Kerja

Virtus Technology Indonesia Resmi Jadi Master Distributor DJI Enterprise di Indonesia

Produk Bernilai Tambah Tinggi Asal Cilegon Tembus Kanada, Kemendag: Bukti Industri RI Makin Kuat

Trafik Uplink Melampaui Downlink, Pola Penggunaan Jaringan Digital Mulai Berubah

Info Loker! Job Fair Pemkab Magelang 2026 Tersedia 3.717 Lowongan

Shin Ye Eun Ajak Masyarakat Indonesia Rasakan Kehangatan Hunian Pintar Berbasis K-Wellness

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Babak Gugur Piala Dunia 2026 Mulai Terbentuk, Enam Negara Amankan Tiket 32 Besar, Empat Tersingkir

Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Ini Deretan Pemain yang Memperebutkan dari Messi, Mbappe, hingga Haaland, Siapa yang Layak?

Tiga Pejabat Tinggi Pratama Setjen MPR RI Dilantik, Siti Fauziah Tekankan Penguatan Kolaborasi dan Peningkatan Kinerja Lembaga

Peternak Sapi Perah Indonesia Raih Kenaikan Produksi Susu Berkat Transfer Teknologi AS

DFSK E5 Plus Resmi Buka Pre-Booking di Indonesia, Konsumen Berpeluang Dapat Benefit Rp60 Juta.

Info Lowongan kerja! Ayo Walk in Interview ke GOR Tanjung Duren Jakbar, Buka 4.262 Lowongan

Pertama di Indonesia, Whitesky Group dan SkyDrive Hadirkan Mockup eVTOL 1:1

1.151 KM Jalan Daerah Dilebarkan dari 3 Jadi 8 Meter, Dana Rp5,41 T Digelontorkan

Iming-iming Gaji Tinggi! Wamen P2MI dan Australia Bahas Ancaman Penipuan Pekerja Migran

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.