Prasasti Poyangan Sebuah Literasi yang Terkubur
Jumat, 08 Mei 2026, 06:53 WIBSETIAP susunan andesit di bukit setinggi 410 meter di atas permukaan laut Candi Ijo para arkeolog dan pemburu sejarah, adalah potongan puzzle atau teka-teki dari abad ke-9 yang masih menyimpan banyak misteri, termasuk jejak literasi kuno yang sempat âhilangâ dari pandangan publik.
Salah satu alasan kuat mengapa Candi Ijo begitu istimewa dalam peta sejarah Mataram Kuno adalah temuan artefak tulisnya. Di kompleks ini, pernah ditemukan sebuah prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Poyangan. Prasasti ini bukan sekadar guratan tanpa makna; ia adalah dokumen administratif dan keagamaan dari masa silam.
Tulisan di dalamnya menggunakan aksara Jawa Kuno, menceritakan tentang pemberian tanah sima (tanah perdikan atau bebas pajak) untuk pemeliharaan sebuah bangunan suci. Keberadaan prasasti ini menjadi bukti bahwa Bukit Ijo tempat candi itu berada pada masa itu bukan sekadar tempat terpencil, melainkan pusat aktivitas spiritual yang diakui secara resmi oleh penguasa kerajaan.
Berbeda dengan Candi Prambanan yang megah dalam satu kompleks datar, Candi Ijo dibangun dengan sistem berteras total terdapat 11 teras yang meninggi ke arah timur. Secara arkeologis, pola ini merupakan bentuk akulturasi antara kepercayaan Hindu-Siwa dengan budaya asli Nusantara, yakni punden berundak, yang menganggap tempat tinggi sebagai hunian para leluhur dan dewa.
Di teras tertinggi (teras ke-11), berdiri candi utama yang menyimpan rahasia teologis Siwaisme paling fundamental. Di dalam ruang gelap garbhagrha-nya, terdapat sebuah Lingga dan Yoni berukuran raksasa. Lingga ini tidak biasa; pada bagian batunya terdapat ukiran yang menggambarkan sinarnya, menegaskan fungsi candi ini sebagai tempat pemujaan Siwa dalam manifestasinya sebagai cahaya abadi atau Jyotirlinga.
Meski dibangun pada periode yang hampir bersamaan dengan Candi Prambanan yakni sekitar tahun 850 hingga 900 Masehi siapa tokoh kunci di balik pembangunan Candi Ijo tetap menjadi bahan diskusi yang hangat di kalangan sejarawan. Beberapa mengaitkannya dengan Rakai Pikatan atau Rakai Kayuwangi, raja-raja besar dari Dinasti Sanjaya.
Lokasi candi yang berdekatan dengan Candi Ratu Boko (yang memiliki karakter keraton/benteng) menunjukkan bahwa Candi Ijo kemungkinan besar berfungsi sebagai candi kenegaraan atau tempat meditasi bagi para bangsawan kerajaan sebelum mereka melakukan ritual di pusat kota.
Hingga puluhan tahun yang lalu, Candi Ijo hanyalah gundukan batu yang tertutup tanah dan semak belukar. Proses ekskavasi dan rekonstruksi panjang akhirnya berhasil mengembalikan kemegahannya. Namun, âprasasti yang hilangâ bukan hanya merujuk pada benda fisik yang kini diamankan di museum, melainkan pada memori kolektif masyarakat tentang betapa majunya peradaban literasi dan arsitektur nenek moyang kita di lereng bukit ini.
Menjelajahi Candi Ijo melalui kacamata arkeologi adalah tentang menghargai bagaimana batu-batu bisu ini sebenarnya berbicara tentang sebuah peradaban yang mampu menyatukan kemegahan struktur dengan ketenangan spiritual di titik tertinggi Yogyakarta. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.