'Gig economy' Dorong Milenial dan Gen Z Lebih Rasional Atur Pengeluaran
Jumat, 08 Mei 2026, 18:23 WIBJAKARTA - Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tahun 2021-2025 Universitas Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai berkembangnya gig economy (ekonomi pekerjaan lepas) dan pola kerja fleksibel mendorong generasi milenial dan Gen Z lebih rasional dalam mengatur pengeluaran serta menjalani gaya hidup hemat.
Menurut Semiarto, generasi muda saat ini mulai mempertimbangkan secara lebih matang hubungan antara pengeluaran dan manfaat yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
âGaya hidup hemat atau frugal living, saya rasa sekarang orang sudah mulai berpikir lebih rasional. Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat,â kata Semiarto saat dihubungi wartawan pada Jumat.
Ia mengatakan pola pikir tersebut berkembang di tengah meningkatnya biaya hidup di kawasan perkotaan, mulai dari biaya tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan gaya hidup.
âBiaya hidup di kota itu memang naik. Sewa rumah, punya rumah, biaya transportasi, gaya hidup memang mahal,â ujarnya.
Di sisi lain, menurut dia, generasi muda saat ini juga menghadapi pola kerja yang semakin fleksibel dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pekerjaan tetap.
Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu menilai banyak anak muda kini lebih tertarik pada pekerjaan berbasis proyek, pekerja lepas (freelance) maupun pekerjaan sampingan (side job) dibanding pekerjaan tetap dengan keterikatan jangka panjang.
âSekarang itu yang penting gig economy. Orang boleh pekerja tetap, tapi side job-nya banyak,â katanya.
Menurut dia, sebagian generasi muda saat ini lebih memilih fleksibilitas kerja dan peluang memperoleh penghasilan tambahan dibanding mengejar stabilitas kerja seperti generasi sebelumnya.
âLebih baik freelance, karena sekali dapat langsung banyak, dan itu urusannya tinggal bagaimana kita mengelola uang kita,â ujar Semiarto.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat generasi muda semakin selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran dan mulai menghindari konsumsi berlebihan.
âHidup hemat tidak lagi dikaitkan dengan orang yang kekurangan. Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar,â katanya.
Semiarto menambahkan gaya hidup hemat saat ini berkembang sebagai bagian dari nilai baru di masyarakat urban yang lebih menekankan konsumsi secara wajar dan efisien. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Terkunci Aturan Hong Kong, Pemerintah Kebut Upaya Pulangkan 9 Jenazah WNI
-
Lebaran Betawi 2026 Digelar di Lapangan Banteng 10-12 April, Pesta Budaya Terbesar Jakarta
-
Presiden Prabowo Targetkan 20 Juta Penerima MBG Sebelum 17 Agustus 2025
-
Real Madrid Hadapi Manchester City, PSG Tantang Chelsea di 16 Besar Liga Champions
-
Kalah dari Torino, Napoli Gagal Pertahankan Puncak Klasemen
-
Jurnalisme Inklusif dan Sensitif Gender Hadapi Era AI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.