Florikultura RI Tembus Korea, Potensi Transaksi Capai Rp17 Miliar
📅 Kamis, 07 Mei 2026, 20:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Budidaya tanaman hias memiliki prospek ekonomi yang terus berkembang seiring meningkatnya tren penghijauan, dekorasi rumah, dan gaya hidup ramah lingkungan di masyarakat.
Selain memiliki nilai estetika, tanaman hias juga menjadi peluang usaha bernilai tambah tinggi karena permintaan pasar relatif stabil, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Dengan dukungan inovasi budidaya, pemasaran digital, dan pengembangan varietas unggul, sektor tanaman hias dinilai mampu membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi pelaku usaha mikro dan komunitas pertanian urban.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan menyebut hasil budidaya tanaman hias (florikultura) Indonesia mencatatkan potensi transaksi 1,1 juta dolar AS atau setara Rp17,05 miliar pada pameran International Horticulture Goyang Korea di Goyang, Korea Selatan.
Potensi transaksi dihasilkan dari berbagai produk hasil budidaya petani Indonesia seperti bunga sedap malam, krisan atau seruni dan mawar, yang sekaligus menambah semerbak wangi musim semi di Korea Selatan tahun ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Capaian potensi transaksi ini menunjukkan bahwa produk florikultura dari Indonesia mempunyai peluang yang cukup baik di Korea Selatan. Kami akan menindaklanjuti potensi ini," ujar Kepala ITPC Busan Husodo Kuncoro Yakti dalam keterangan di Jakarta, Kamis (7/5).
Paviliun Indonesia menghadirkan sebelas petani florikultura yang tergabung dalam Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Tanaman endemik Indonesia yang turut dipamerkan, antara lain, labisa, keladi atau telinga gajah, sri rejeki, serta tanaman budi daya menggunakan teknik kultur jaringan.
Selain memfasilitasi keikutsertaan di pameran, KBRI Seoul dan ITPC Busan juga mendampingi penjajakan bisnis (business matching) pelaku usaha Indonesia dan importir Korea Selatan untuk menggali peluang ekspor tanaman hias dan tanaman endemik Indonesia ke negeri Ginseng.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain anggota ASBINDO, business matching juga melibatkan perusahaan florikultura Indonesia, yaitu
peserta Horticulture Business Trip ke Korea Selatan oleh Perkumpulan Profesi Hortikultura Indonesia (PPHI).
Pada Januari-Maret 2026, total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan mencapai 4,27 miliar dolar AS. Nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan adalah sebesar 2,34 miliar dolar AS, sedangkan impor Indonesia dari Korea Selatan 1,93 miliar dolar AS. Indonesia mencatatkan surplus 411,70 juta dolar AS terhadap Korea Selatan.
Produk hortikultura, termasuk bunga potong dan tanaman, merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia ke Korea.
Pada 2025, tercatat impor Korea dari Indonesia sebesar 1,1 juta dolar AS. Potensi ekspor produk hortikultura Indonesia ke Korea Selatan pun kian terbuka seiring dengan meningkatnya minat masyarakat Korea terhadap tren gaya hidup berkebun (home-gardening).
Istilah "pet-plant" di Korea Selatan saat ini sangat populer. Masyarakat Korea Selatan melihat tanaman sebagai pendamping emosional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!