Gunungkidul Perkuat Sektor Peternakan, Dorong Perlindungan Sosial dan Kesehatan Ternak

Rabu, 06 Mei 2026, 18:45 WIB

GUNUNG KIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah strategis untuk memperkuat sektor peternakan melalui sarasehan bersama para peternak yang digelar di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Rabu (6/5/2026). Forum ini tidak hanya membahas pengembangan potensi ternak lokal, tetapi juga menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi pelaku usaha di sektor agraris.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa program jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan menjadi bagian penting dalam melindungi petani dan peternak sebagai penopang ekonomi keluarga. Pemerintah daerah, melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) 2026, telah mendaftarkan 200 petani tembakau dan mendorong agar peternak juga mendapatkan perlindungan serupa.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkab Gunung Kidul

“Sebagai bukti nyata manfaat program, dilakukan penyerahan simbolis santunan kematian (JKM) kepada ahli waris peternak yang meninggal dunia.” ungkap Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih

Perlindungan tersebut juga diperluas kepada mahasiswa yang menjalani praktik lapangan di lingkungan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, guna mengantisipasi risiko kecelakaan kerja.

Dalam kesempatan itu, Bupati Endah turut mengajak peternak menjaga kebersihan kandang serta kesehatan hewan, termasuk melalui tradisi Gumbregan yang akan berlangsung pada pertengahan Mei.

“Momentum ini diharapkan memperkuat posisi Gunungkidul sebagai gudang ternak sehat di Daerah Istimewa Yogyakarta.” kata Bupati Endah.

Menjelang Iduladha 2026, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendukung dengan menurunkan dokter hewan dan mahasiswa koas untuk memastikan proses penyembelihan sesuai standar kesehatan.

“Kita bergerak karena ingin perbaikan nasib. Semangat ‘obah mamah’ inilah yang harus dibawa dalam memajukan sektor peternakan kita,” pungkas Bupati dalam arahannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi, menyampaikan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam melaporkan kematian ternak melalui aplikasi Lapor Bup.

“Meski angka kematian tercatat mencapai 53 ekor lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, hal ini dinilai sebagai tren positif karena menunjukkan masyarakat mulai menghindari praktik penjualan daging bangkai (brandu) dan lebih memilih melapor untuk mendapatkan penanganan resmi.” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul,

Ia menambahkan, sapi Peranakan Ongole (PO) sebagai komoditas unggulan lokal memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit dibandingkan sapi persilangan.

“Sapi PO rata-rata hanya mengalami risiko kematian di atas usia 7 tahun, sementara jenis lain sering terdampak di bawah usia 2 tahun.” imbuh Rismiyadi.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.