UEA Keluar dari OPEC Mulai 1 Mei

Kamis, 30 Apr 2026, 01:00 WIB

Dubai - Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan bahwa keputusan untuk keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) merupakan langkah berdaulat dan strategis yang didasarkan pada visi ekonomi jangka panjang.

Dikutip dari Antara, Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Mahash Al Hameli, Selasa (28/4), menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan arah pembangunan ekonomi nasional ke depan.

Ket. Foto: Warga berjalan melewati gedung markas besar OPEC di Wina, Austria, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/JOE KL

"Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC adalah pilihan berdaulat dan strategis yang berlandaskan visi ekonomi jangka panjang negara ini," ujar Al Hameli melalui unggahan di media sosial X.

Ia menjelaskan langkah tersebut akan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi UEA dalam memanfaatkan kapasitas energinya, sekaligus memperkuat pembangunan nasional, meningkatkan kepercayaan pasar, dan mendukung stabilitas energi global.

Sebelumnya pada hari yang sama, UEA mengumumkan akan mundur dari OPEC dan aliansinya yang lebih luas, OPEC+, efektif mulai 1 Mei. Keputusan ini menjadikan produsen minyak terbesar ketiga tersebut keluar dari organisasi, yang diperkirakan akan melemahkan pengaruh kartel terhadap pasokan dan harga minyak global.

Sejumlah analis menilai keluarnya UEA berpotensi mengurangi sekitar 15 persen kapasitas OPEC.

Kerja Sama Bilateral

Meski keluar dari organisasi tersebut, Al Hameli menegaskan bahwa UEA akan tetap menjalin kerja sama erat dengan para mitra internasional.

"UEA akan terus memperdalam kerja sama bilateral dan multilateral serta berkontribusi pada pasar energi global yang stabil dan berfungsi dengan baik," katanya.

Menurut laporan kantor berita WAM, setelah keluar dari OPEC, UEA akan tetap bertindak secara bertanggung jawab dengan menambah produksi minyak secara bertahap dan terukur, sesuai dengan permintaan serta kondisi pasar.

Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei menyatakan keputusan ini mencerminkan evolusi kebijakan energi yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada OPEC dan negara-negara anggotanya atas kerja sama yang telah terjalin selama beberapa dekade, sekaligus menegaskan komitmen UEA untuk terus menjaga stabilitas pasar energi global.

"Kami tetap berkomitmen pada keamanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon, serta mendukung pasar global yang stabil," ujarnya.

Di sisi lain, pada hari yang sama, Menteri Perindustrian UEA sekaligus CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Ahmed Al Jaber bertemu dengan Menteri Negara Urusan Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy Saad Sherida Al Kaabi di Qatar.

Pertemuan tersebut membahas hubungan bilateral serta kerja sama di sektor energi antara kedua negara, sekaligus menjajaki peluang untuk memperkuat kolaborasi ke depan.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.