Sukses Atasi Stunting dan Kemiskinan, Riau Dapat Hadiah Rp3 Miliar

Selasa, 28 Apr 2026, 04:30 WIB

TANJUNGPINANG – Dinilai sukses mengatasi kekerdilan dan kemiskinan, maka Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan insentif sebesar 3 miliar dari pemerintah pusat. Kepri meraih predikat terbaik pertama kategori penanggulangan kemiskinan hingga stunting dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026.

"Ini capaian yang tentunya berkat dukungan dari banyak pihak, baik internal Pemprov Kepri, instansi terkait, serta masyarakat secara umum," kata Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura di Tanjungpinang, Senin.

Ket. Foto: sukses atasi stunting — Sumber: ist

Nyanyang juga menekankan penghargaan ini menjadi motivasi bagi Pemprov Kepri untuk lebih bersemangat dalam upaya penanggulangan kemiskinan dan penurunan angka stunting.

Ia menyampaikan angka kemiskinan di Kepri per Maret 2025 tercatat sebesar 4,44 persen atau sekitar 117,28 ribu jiwa. Angka ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah keempat di Indonesia.

"Angka ini juga menunjukkan penurunan signifikan dari Maret 2024 yang mencapai 5,37 persen," ujarnya.

Sementara angka stunting di Kepri pada 2025 sebesar 15 persen atau juga merupakan provinsi terendah keempat nasional.

Wagub Kepri menegaskan berbagai program intervensi penanganan kemiskinan dan stunting terus digesa pemerintah daerah bersama pihak terkait.

"Untuk kemiskinan, mulai dari penyaluran bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, pembangunan infrastruktur dasar. Lalu, stunting dilakukan upaya intervensi gizi spesifik, program orang tua asuh hingga penyaluran bantuan pangan bergizi," ungkapnya.

Sementara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Palembang, Sabtu (25/4), untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah pemerintah daerah dengan kinerja terbaik.

Ada empat kategori yang diberi penghargaan, yakni penurunan tingkat pengangguran, penurunan kemiskinan dan stunting, creative financing, dan pengendalian inflasi.

Penghargaan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat dalam mendorong peningkatan kinerja daerah melalui pemberian insentif fiskal dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Rakyat Diminta Sabar Terus

Sementara itu, terkait penanganan kemiskinan, rakyat diminta sabar saja. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar minta masyarakat kelas menengah maupun rentan miskin agar bersabar terkait penanganan kemiskinan yang masih berlangsung secara bertahap.

"Kita sedang mengatasi yang kemiskinan ekstrem dan miskin dulu. Sehingga ketika pekerjaan ini selesai, kita akan masuk menghadapi yang rentan miskin," kata Menko Muhaimin Iskandar pada Rapat Tingkat Menteri (RTM) di Jakarta, Senin.

Menurut dia, selama satu setengah tahun masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih difokuskan untuk menurunkan angka masyarakat miskin dan miskin ekstrem.

"Tentu pemerintah hari ini baru satu setengah tahun ya, akan ada saatnya kita bergerak untuk mengatasi yang rentan miskin. Sabar, kita akan terus bekerja keras, tetapi yang paling pokok kita tuntaskan dulu yang miskin ekstrem," kata Muhaimin Iskandar.

Pemerintah menargetkan bisa mencapai nol persen kemiskinan ekstrem pada akhir 2026. Sementara kemiskinan nasional ditarget turun menjadi 4,5 persen - 5 persen pada 2029.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2026, jumlah masyarakat yang rentan miskin saat ini sebesar 67,93 juta jiwa atau mengalami kenaikan 24,12 persen.

Sementara masyarakat yang menuju kelas menengah sebesar 141,95 juta jiwa atau turun 50,41 persen. Jumlah masyarakat miskin sebesar 23,85 juta jiwa.

Masyarakat kelas menengah sebesar 46,71 juta jiwa atau 16,59 persen. Kelas atas hanya 1,18 juta jiwa atau 0,42 persen.

Menurut dia, jumlah masyarakat rentan miskin tercatat masih sangat besar dan cenderung meningkat akibat krisis global.

"Di sisi yang lain, kita terus bekerja sekuat tenaga untuk menjaga agar kelas menengah tidak turun kelas. Kelas menengah kita adalah kelas yang memiliki kerentanan akibat goncangan ekonomi yang bersumber dari berbagai masalah baik nasional maupun di tingkat global," kata Muhaimin Iskandar dalam pembukaan Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/4).

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.