- Home
-
- Luar Negeri
-
- UE Serukan Pembahasan Kris...
UE Serukan Pembahasan Krisis Migran di Ceuta
Senin, 03 Agu 2026, 02:25 WIBBRUSSELS - Mayoritas negara-negara Uni Eropa (UE) pada Sabtu (1/8) menyerukan pembicaraan darurat mengenai masuknya puluhan ribu migran secara tiba-tiba ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara.
Surat terbuka dari para pemimpin 22 dari 27 negara anggota UE menuntut agar para menteri dalam negeri blok tersebut mengadakan pertemuan daring secepatnya untuk menyepakati respons terkoordinasi yang cepat, dan untuk mencegah penyeberangan tak terkendali lebih lanjut.
"Kita memiliki kewajiban untuk secara efektif mencegah dan tanpa henti memerangi migrasi ilegal," demikian pernyataan tersebut.
Irlandia, yang saat ini memegang jabatan presiden bergilir UE, mengatakan pertemuan itu akan berlangsung pada Selasa (4/8).
Kepala kebijakan luar negeri UE, Ursula von der Leyen, menyambut baik langkah tersebut, dengan mengatakan bahwa blok tersebut membutuhkan proses pembelajaran untuk meningkatkan ketahanan Eropa, sambil menambahkan bahwa tidak satu orang pun mencapai daratan Spanyol atau wilayah UE lainnya selama gelombang pengungsi tersebut.
Surat terbuka UE tersebut diprakarsai oleh Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang negaranya telah menangguhkan sementara aturan wilayah Schengen dengan Spanyol, dan oleh rekannya dari Denmark, Mette Frederiksen, yang pada Jumat (31/7) lalu mengatakan bahwa UE harus mempertimbangkan untuk menangguhkan kerja sama Schengen dengan Spanyol.
Meloni di X menulis bahwa garis kebijakan yang telah lama didukung Italia, kini dianut oleh semakin banyak negara Eropa. âMempertahankan perbatasan luar Uni Eropa bukanlah kepentingan satu negara saja. Ini adalah tanggung jawab bersama Eropa," tulis Meloni.
Di antara para penandatangan lainnya adalah Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dan perdana menteri Hongaria, Swedia, dan Polandia, kecuali pemimpin dari Prancis dan Portugal, yang negaranya berbatasan langsung dengan Spanyol.
"Kita tidak dapat membiarkan penyeberangan massal yang tidak terkendali, instrumentalisasi migrasi, atau ancaman hibrida lainnya menciptakan persepsi bahwa masuk secara ilegal ke Uni Eropa adalah mungkin," bunyi surat terbuka itu.
"Persepsi seperti itu akan mendorong upaya lebih lanjut, merusak kepercayaan pada kebijakan migrasi bersama kita, dan berdampak bagi semua negara anggota," imbuh surat itu.
Laporan tersebut kemudian menyarankan agar para menteri khususnya mempertimbangkan peningkatan dukungan Frontex dan efektivitas kerja sama UE dengan Maroko.
"Kami mencatat bahwa tidak ada pergerakan lanjutan tanpa izin yang tercatat menuju Eropa," ungkap laporan tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Sabtu mengatakan bahwa hampir semua dari 60.000 migran yang menerobos perbatasan sejak hari Rabu (29/7) lalu telah pergi dan situasi di Ceuta hampir kembali normal. AFP/I-1
- Maroko
- Giorgia Meloni
- ceuta
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Jelang Laga Argentina Vs Austria: Lionel Messi Tetap Tumpuan
-
Harga Minyak Mentah Turun Karena Optimisme Perundingan Damai AS-Iran
-
Ironi Pangan Indonesia: Makanan Layak Konsumsi Jadi Sampah Saat Banyak Warga Masih Membutuhkan
-
Akses ke JIS Makin Mudah, Semoga Artis Asing Mau Manggung di JIS
-
Maroko Dampingi Brasil Melaju ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Haiti 4-2
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.