- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ambisi Antariksa: Tiongkok...
Ambisi Antariksa: Tiongkok Bakal Luncurkan 20.000 Satelit
Minggu, 26 Apr 2026, 15:43 WIBTOKYO - Tiongkok telah mengajukan rencana untuk meluncurkan sekitar 200 ribu satelit sebagai upaya untuk bersaing dengan layanan internet satelit Starlink yang dioperasikan perusahaan milik Amerika Serikat, SpaceX.
Menurut Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk teknologi informasi dan komunikasi, Tiongkok telah mengajukan permohonan untuk peluncuran satelit secara besar-besaran itu, dengan mengalokasikan pita frekuensi radio dan orbit satelit.
Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi Asia bertujuan untuk membangun versi layanan seperti Starlink, tambah ITU.
Sistem Starlink, yang dioperasikan oleh perusahaan pimpinan Elon Musk tersebut, menghubungkan satelit di orbit rendah dengan perangkat pengguna portabel serta menawarkan layanan internet lebih cepat dari layanan satelit lainnya. Starlink juga digunakan oleh Ukraina dalam melawan invasi Russia.
Data ITU menunjukkan institusi penelitian Tiongkok di Provinsi Hevei telah mengajukan penempatan terhadap 193.400 satelit ke orbit pada Desember lalu. Pada tahun lalu pula, sejumlah perusahaan komunikasi di Beijing dan Shanghai pun juga telah meminta izin untuk meluncurkan sedikitnya 10.000 satelit.
ITU mengalokasikan orbit satelit berdasarkan siapa yang lebih dulu mendaftar. Adapun, layanan Starlink diketahui menggunakan sekitar 10.000 satelit.
Seorang pejabat otoritas angkasa Tiongkok mengatakan kepada Kyodo News bahwa frekuensi radio dan orbit satelit bersifat terbatas. Beijing melihat hal itu sebagai aset strategis yang tak boleh diabaikan, sehingga permohonan penggunaannya harus segera diajukan.
Menurut rencana pembangunan ekonomi lima tahun hingga 2030, Tiongkok akan mendorong pengembangan jaringan komunikasi satelit.
Penelitian yang dilakukan Beijing terhadap cara kerja layanan Starlink di Taiwan dan wilayah sekitarnya juga mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap kemampuan pengintaian dan pengumpulan intelijen sistem, yang dianggap dapat membantu AS dalam mempertahankan Taiwan.
Tiongkok mengakui Taiwan sebagai wilayahnya dan terus berupaya menguasai wilayah tersebut, termasuk dengan pengerahan militer jika diperlukan.
Namun demikian, sejumlah pengamat menyebut rencana Tiongkok meluncurkan satelit sebanyak itu tidak memungkinkan secara teknis.
Profesor Kazuto Suzuki, akademisi Sekolah Pascasarjana Kebijakan Publik di Universitas Tokyo, mengatakan rencana Tiongkok âtak realistisâ. Profesor Suzuki meyakini hal itu dilakukan lebih untuk memamerkan kemampuan Tiongkok mencapai apa yang AS bisa lakukan.
Selain itu, Tiongkok juga berupaya mendaratkan manusia di Bulan pada tahun 2030 di tengah upaya pemerintahan Presiden Tiongkok Xi Jinping menjadikan Negeri Tirai Bambu itu sebagai negara adidaya di bidang angkasa.
Kantor Berita Xinhua, Jumat (24/4), melaporkan Beijing berencana meluncurkan misi penerokaan di Mars pada 2028 dan membawa sampel dari Mars pulang ke Bumi pada 2031. Ant/Xinhua
Berita Terkait:
-
MediaTek Gandeng Starlink Hadirkan Layanan Satelit Darurat pada Perangkat Seluler
-
Percepat Konektivitas Digital di Wilayah 3T, Lintasarta Gandeng Starlink
-
Megawati Soekarnoputri Resmi Terima Gelar Doktor Kehormatan di Riyadh
-
AS Sita Kapal Tanker Berbendera Russia, Menyebutnya "Armada Bayangan" terkait Minyak Venezuela
-
BPBD Bekasi Ingatkan Warga untuk Lebih Waspada terhadap Perubahan Cuaca Ekstrem
-
Trump akan Kirim Gugus Tempur Kapal Induk Kedua di Timur Tengah
-
Pemerintah Pastikan Dana 3,1 Miliar Dolar JETP Siap Digelontorkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.