• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • IVAXCON 2026 Dorong Imunis...

IVAXCON 2026 Dorong Imunisasi Lintas Generasi, Lawan Misinformasi Kesehatan

Sabtu, 25 Apr 2026, 21:18 WIB

JAKARTA – Peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2026 dimanfaatkan MSD Indonesia untuk kembali menggelar forum IVAXCON 2026, sebuah seminar yang menyoroti pentingnya perlindungan kesehatan lintas generasi melalui imunisasi. Kegiatan yang berlangsung pada 24–26 April 2026 itu menjadi ruang dialog antara tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, sektor swasta, media, dan komunitas dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat.

Forum ini digelar di tengah masih tingginya ancaman penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah, namun kerap diabaikan akibat rendahnya pemahaman publik dan maraknya misinformasi mengenai vaksinasi.

Ket. Foto: Para pembicara dalam kegiatan IVAXCON 2026, yang berlangsung di Jakarta pada hari Sabtu (25/4). Forum Pekan Imunisasi Dunia 2026 menyoroti pentingnya imunisasi lintas generasi, pencegahan campak, pneumonia, HPV, serta melawan misinformasi kesehatan. — Sumber: MSD

MSD Indonesia menilai tantangan kesehatan saat ini bukan hanya soal akses layanan, tetapi juga derasnya informasi keliru yang membuat sebagian masyarakat ragu terhadap langkah pencegahan, termasuk imunisasi.

Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, mengatakan perlindungan kesehatan di setiap fase kehidupan kini menjadi kebutuhan mendesak yang sejalan dengan standar global.

“Perlindungan di setiap fase kehidupan melalui life-course immunization kini menjadi langkah krusial yang selaras dengan standar global. Berlandaskan visi saving and improving lives, IVAXCON 2026 hadir untuk mensinergikan sains dan edukasi guna memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada hari Sabtu (25/4).

Menurut George, pencegahan merupakan strategi paling efisien dalam pengelolaan sumber daya kesehatan. Dengan menekan risiko penyakit sejak awal, beban layanan kuratif dan pembiayaan jangka panjang dapat dikurangi.

Pendekatan Imunisasi Sepanjang Hidup

Konsep life-course immunization atau imunisasi sepanjang siklus hidup merupakan pendekatan yang didorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Immunization Agenda 2030. Strategi ini menekankan bahwa perlindungan melalui imunisasi tidak berhenti pada masa bayi dan anak-anak, tetapi berlanjut hingga remaja, dewasa, dan lansia.

Melalui pendekatan tersebut, setiap individu diharapkan memperoleh manfaat imunisasi sesuai usia dan risiko kesehatannya masing-masing.

MSD Indonesia menilai pendekatan ini penting diterapkan di Indonesia mengingat tantangan penyakit menular masih cukup tinggi, mulai dari campak, pneumonia, hingga penyakit terkait Human Papillomavirus (HPV).

Ancaman Penyakit yang Kerap Diabaikan

Sejumlah penyakit menular dinilai masih menjadi ancaman serius karena sering berkembang tanpa gejala awal yang spesifik. Infeksi HPV, misalnya, diketahui berkontribusi terhadap hampir 99 persen kasus kanker serviks secara global.

Selain itu, infeksi bakteri pneumokokus dapat memicu pneumonia dan meningitis, sedangkan penyakit seperti campak, gondongan, rubella, dan varicella masih berpotensi menyebabkan komplikasi berat, terutama pada kelompok rentan.

Peningkatan kasus penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menambah beban sistem layanan kesehatan nasional.

Perlindungan Anak Jadi Prioritas

Pada kelompok usia anak, perlindungan sejak dini dinilai sangat penting karena sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap infeksi.

Dokter Spesialis Anak, dr. Attila Dewanti, Sp.A(K), mengatakan masih ditemukan kasus campak dan pneumonia berat yang seharusnya bisa dicegah.

“Dalam praktik klinis, kami masih menemukan banyak kasus campak dan pneumonia berat yang sebenarnya dapat dicegah. Hambatan terbesar saat ini bukan hanya akses, melainkan juga derasnya misinformasi yang memicu keraguan orang tua,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa imunisasi merupakan kebutuhan dasar dalam pencegahan penyakit tertentu. Karena itu, orang tua diminta mencari informasi medis dari sumber yang kredibel agar tidak terjebak dalam mitos yang membahayakan anak.

Usia Produktif Kerap Abaikan Pencegahan

Sementara itu, pada kelompok usia produktif, kesadaran terhadap pencegahan penyakit masih kerap terabaikan. Banyak orang lebih fokus merencanakan karier, pendidikan, dan finansial, namun kurang memberi perhatian pada perlindungan kesehatan jangka panjang.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Darrell Fernando, Sp.OG, SubspFER, MRCOG, MM, MARS, FICS, FRSPH, Int. Aff.RANZCOG, menilai imunisasi HPV merupakan langkah penting dalam pencegahan kanker serviks, terutama bagi perempuan.

“Sering kami temui, banyak pasien baru menyadari risikonya ketika sudah berada pada tahap lanjut penyakit. Padahal, intervensi paling efektif justru dilakukan sebelum paparan, salah satunya melalui imunisasi,” paparnya.

Menurut dia, keputusan menjalani imunisasi bukan didasarkan pada ketakutan, melainkan bentuk tanggung jawab dalam menjaga kualitas hidup dan masa depan.

Lawan Misinformasi Lewat Kolaborasi

Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, IVAXCON diposisikan sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan misinformasi kesehatan.

Melalui penyelarasan perspektif antara pemerintah, tenaga medis, dunia usaha, media, dan komunitas, forum ini diharapkan mampu melahirkan solusi berbasis data yang dapat menjadi rujukan publik.

MSD Indonesia menilai peningkatan literasi kesehatan masyarakat menjadi kunci penting dalam memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional, baik saat ini maupun di masa depan.

Dengan mendorong pemahaman bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan, IVAXCON 2026 diharapkan menjadi penggerak perubahan menuju masyarakat yang lebih sadar kesehatan dan terlindungi di setiap fase kehidupan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.