Harga Minyak Turun, Saham Naik karena Harapan Perdamaian Berlanjut

Rabu, 22 Apr 2026, 01:00 WIB

HONG KONG – Harga minyak pada Selasa (21/4) turun sementara saham naik karena harapan yang masih ada untuk kesepakatan mengakhiri perang Amerika Serikat (AS)-Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, meskipun Teheran mengatakan belum memutuskan apakah akan menghadiri perundingan perdamaian putaran berikutnya.

Menjelang berakhirnya gencatan senjata selama dua pekan, Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden JD Vance siap kembali ke Pakistan untuk melakukan negosiasi baru guna mengakhiri konflik yang telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak dan memicu kembali kekhawatiran terjadinya inflasi.

Ket. Foto: Seorang pekerja bersiap melayani pelanggan di sebuah SPBU di Makau, baru-baru ini. — Sumber: afp/Eduardo Leal

Namun posisi Teheran tetap tidak pasti karena mereka menuduh Washington DC telah melanggar gencatan senjata yang rapuh melalui blokade pelabuhan dan menyita sebuah kapal Iran.

Harga minyak mentah anjlok pada Jumat (17/4) lalu setelah Teheran mengatakan akan mengizinkan kapal untuk melintasi Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Namun harga komoditas tersebut kembali melonjak pada Senin (20/4) karena Iran kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan blokade dan penyitaan yang dilakukan AS.

Presiden Donald Trump juga menuduh Teheran melanggar gencatan senjata dengan mengganggu kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur transit untuk sekitar seperlima minyak global. Presiden AS itu mengatakan blokade tidak akan dicabut sampai kesepakatan tercapai.

"BLOKADE, yang tidak akan kita cabut sampai ada KESEPAKATAN, benar-benar akan menghancurkan Iran," kata Trump di media sosial. "Mereka kehilangan 500 juta dollar per hari, angka yang tidak berkelanjutan, bahkan dalam jangka pendek."

Presiden Trump pun mengatakan kepada PBS News bahwa Iran seharusnya hadir dalam perundingan di Pakistan. "Kami setuju untuk berada di sana," kata dia seraya memperingatkan bahwa jika gencatan senjata berakhir, maka banyak bom akan mulai meledak.

Secara terpisah, Trump mengatakan kepada Bloomberg News bahwa sangat tidak mungkin ia akan memperpanjang gencatan senjata tersebut.

Berdasarkan waktu dimulainya, gencatan senjata secara teoritis berakhir pada Selasa malam waktu Iran, meskipun dalam komentarnya kepada Bloomberg, Trump mengatakan bahwa berakhirnya adalah Rabu (22/4) malam waktu Washington DC.

Ketua parlemen negara Timur Tengah itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa Trump ingin mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan diri atau membenarkan dimulainya kembali permusuhan, sesuai keinginannya. "Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua pekan terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang," tulis dia di X.

Optimisme Investor

Meskipun demikian, para investor sebagian besar tetap optimis bahwa kedua pihak pada akhirnya akan mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali jalur strategis tersebut.

Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate dan Brent, keduanya turun lebih dari satu persen pada Selasa.

Sementara itu Seoul memimpin kenaikan pasar saham berkat dimulainya kembali reli teknologi yang telah mendorong Kospi ke beberapa rekor sebelum perang, naik 2,7 persen untuk mencapai rekor tertinggi baru.

Tokyo dan Taipei juga mengalami peningkatan signifikan, sementara Hong Kong, Shanghai, Singapura, Wellington, Mumbai, dan Bangkok juga lolos ke babak selanjutnya. London dan Frankfurt mengalami kenaikan sementara Paris stagnan.

  • Imbas Konflik Timur Tengah

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.