Merawat Alam Lewat Motif, Komunitas Natura Buktikan Ecoprint Bisa Menggerakkan Ekonomi Hijau

Selasa, 28 Jul 2026, 17:15 WIB

GORONTALO – Di tangan sekelompok anak muda Gorontalo, dedaunan dan bunga liar tak lagi sekadar bagian dari hutan.

Melalui Komunitas Natura (Nantu Tahura), aneka tanaman diolah menjadi motif ecoprint yang unik dengan memanfaatkan pewarna alami ramah lingkungan.

Ket. Foto: Komunitas Natura saat memproduksi kain ecoprint menggunakan pewarna alami dari berbagai jenis tumbuhan di Gorontalo, Selasa (28/7/2026). — Sumber: ANTARA/ Faradila Alim.

Setiap lembar kain bukan hanya menghadirkan karya seni yang bernilai ekonomi, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga alam.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi muda tanpa mengorbankan kelestarian sumber daya alam.

Pengelola Ecoprint Komunitas Natura Indira Lomban di Gorontalo, Selasa (28/7), mengatakan ecoprint masih tergolong baru di daerah itu. Saat ini baru terdapat dua kelompok yang memproduksi ecoprint di Gorontalo sehingga produk tersebut mulai dikenal masyarakat, khususnya kalangan anak muda yang tertarik pada produk ramah lingkungan.

"Selain menjadi produk fesyen ramah lingkungan, ecoprint juga menjadi media edukasi dan kampanye kepada anak muda agar lebih peduli terhadap lingkungan," katanya.

Ia menjelaskan seluruh produk ecoprint dibuat menggunakan kain berbahan katun dan sutra, sedangkan pewarnanya berasal dari bahan alami seperti kayu secang, tinggi, tinger, dan berbagai jenis tumbuhan lainnya sehingga proses produksi lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis.

Menurut Indira, pengembangan ecoprint juga menjadi bagian dari kampanye mengurangi dampak limbah tekstil dari industri fesyen sekaligus memperkenalkan Hutan Nantu sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan alam Provinsi Gorontalo.

"Salah satu ciri khas ecoprint kami adalah menggunakan daun dari Hutan Nantu sebagai motif. Setiap pembeli kami perkenalkan dengan Hutan Nantu di kabupaten Gorontalo agar semakin banyak masyarakat mengetahui pentingnya menjaga kawasan tersebut," katanya.

Ia mengatakan minat masyarakat terhadap produk ecoprint terus meningkat sejak Komunitas Natura mengikuti berbagai pameran. Sejumlah pelaku usaha percetakan, butik, dan pengrajin karawo juga mulai menjajaki kerja sama untuk mengembangkan produk ecoprint di Gorontalo.

Saat ini Komunitas Natura memproduksi kain ecoprint per meter, kaus, syal, dan tas jinjing (totebag). Namun, komunitas tersebut belum menetapkan target produksi karena masih berfokus pada kampanye lingkungan, meski mulai menerima sejumlah permintaan kerja sama.

"Kami belum mengejar target penjualan, tetapi ke depan akan lebih serius mengembangkan produksi karena mulai ada permintaan kerja sama," katanya.

Ia mengatakan satu lembar kain ecoprint dipasarkan dengan harga sekitar Rp500 ribu, bergantung pada motif, tingkat kerumitan proses pembuatan, dan kualitas hasil akhir produk.

Produk ecoprint Komunitas Natura telah dipasarkan melalui berbagai pameran, termasuk Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Pada kegiatan tersebut, produk mereka dibeli oleh kontingen dari Aceh, Makassar, Papua, dan sejumlah daerah lainnya.

Selain mengikuti pameran UMKM, Komunitas Natura juga memberikan pelatihan dan lokakarya ecoprint pada berbagai kegiatan, antara lain Green Action Day, Orang Muda Gorontalo Kreatif (OMG Creative), Festival Hirameya Desa Kota, Festival Menjaga Air Nantu dan Tahura, Festival Raksaloka, peringatan Hari Burung Internasional, serta pelatihan ecoparenting berbasis rumah tangga ramah lingkungan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.