Curaçao Ukir Sejarah, Negara Kecil dengan Ambisi Besar di Piala Dunia

Jumat, 17 Apr 2026, 06:30 WIB

WILEMSTAD, CURACAO — “Pulau kecil, mimpi besar.” Kalimat itu terpampang di poster tim nasional sepak bola Curaçao, negara dengan populasi sekitar 160 ribu jiwa yang mencatat sejarah sebagai negara dengan jumlah penduduk terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia.

Keberhasilan Tim Nasional Curaçao memastikan tiket ke putaran final, setelah bermain imbang tanpa gol melawan Tim nasional Jamaika pada November lalu, langsung disambut euforia. Masyarakat pulau yang terkenal dengan minuman khas berwarna biru safir itu kini larut dalam semangat “Blue Wave”, julukan tim nasional mereka.

Ket. Foto: Baliho dengan foto timnas Curacao. — Sumber: AFP

Lolosnya Curaçao diperkirakan memberi dampak signifikan bagi sektor pariwisata. Pulau dengan pantai pasir putih itu mencatat 1,5 juta kunjungan wisatawan tahun lalu, dan angka tersebut sudah meningkat 13 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.

“Sepak bola membawa kami ke peta dunia,” ujar Perdana Menteri Gilmar Pisas, yang juga mantan pesepak bola, dalam wawancara dengan AFP. Ia optimistis lonjakan wisatawan akan terus berlanjut seiring sorotan global terhadap negaranya.

Namun di balik panorama hotel mewah dan kapal pesiar yang bersandar di pelabuhan Willemstad, realitas berbeda tampak di kawasan Fuik. Di lapangan tanah sederhana, sekelompok remaja bermain sepak bola, jauh dari gemerlap pariwisata.

Mereka merupakan bagian dari yayasan yang didirikan oleh mantan pelatih Curaçao, Remko Bicentini, yang fokus membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di gerbang lapangan, terpampang pesan dalam bahasa Papiamento: “Anda bertanggung jawab atas masa depan Anda.”

“Kalau datang ke Curaçao untuk liburan, semuanya terlihat sempurna. Tapi ada juga wilayah dengan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan,” kata Bicentini.

“Banyak keluarga punya tiga sampai lima anak, tapi kekurangan secara ekonomi. Kami membantu mereka, bahkan untuk kebutuhan makan.”

Salah satu pemain muda binaannya, Neveron Alberto, bermimpi membela tim nasional. Namun jalan menuju skuad utama tidak mudah, terutama bagi pemain lokal.

Presiden federasi sepak bola Curaçao, Gilbert Martina, mengakui bahwa keberhasilan tim nasional sangat bergantung pada diaspora yang bermain di luar negeri.

“Hampir semua pemain tim nasional bermain di liga luar negeri,” ujarnya.

Satu-satunya pemain yang lahir di Curaçao dalam skuad saat ini, Tahith Chong, bahkan telah pindah ke Belanda sejak usia 13 tahun.

Meski demikian, popularitas sepak bola terus meningkat di pulau yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penggemar berat bisbol. Martina berharap momentum Piala Dunia dapat meningkatkan jumlah pemain terdaftar yang saat ini berkisar antara 3.500 hingga 4.000 orang.

Sosok paling terkenal dari Curaçao mungkin adalah legenda sepak bola Patrick Kluivert. Mantan bintang Ajax dan Barcelona itu menyambut gembira pencapaian negaranya.

“Luar biasa melihat Curaçao tampil di Piala Dunia,” ujarnya. “Dulu sepak bola tidak terlalu besar di sini, tapi sekarang para pemain memberi visibilitas global. Ini penting untuk masa depan dan generasi berikutnya.”

Di Piala Dunia nanti, Curaçao tergabung di Grup E bersama Tim nasional Ekuador, Tim nasional Pantai Gading, dan raksasa Eropa Tim nasional Jerman, juara dunia empat kali.

Mantan bintang Argentina, Claudio Caniggia, yang hadir dalam turnamen legenda di Curaçao bersama Ronaldinho, Wesley Sneijder, dan Marco Materazzi, menilai partisipasi Curaçao akan menjadi inspirasi besar.

“Jika mereka bisa lolos dari fase grup, itu akan menjadi pencapaian luar biasa,” ujarnya, seraya menekankan bahwa Piala Dunia kerap menghadirkan kejutan.

Optimisme kini terasa di seluruh penjuru pulau, termasuk di toko resmi suporter. Jersey biru khas Curaçao laris diburu warga dan wisatawan.

Di balik meja kasir, Rovien Petronilia, pemuda 21 tahun, menyimpan keyakinan besar. “Kami akan mengalahkan Jerman!” ujarnya penuh percaya diri.

Sebuah keyakinan yang mungkin terdengar berani, namun sejalan dengan semangat Curaçao: kecil dalam ukuran, besar dalam mimpi.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

Berita Terbaru

Wagub Rano Karno Sapa Peserta Jamnas XII, Dorong Pramuka Jadi Agen Perubahan

Operasi Lutut Lebih Aman dan Terukur, RS Premier Bintaro Hadirkan Teknologi ROSA

Esports Nations Cup Ditunda ke November 2027, Ini Alasan Resmi EF

Purbaya: Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Paling Cepat bisa Berlaku September 2026

Ajang Lari Cirebon QRIS Run 2026, Sarana Pemkot Cirebon Gencarkan Penggunaan QRIS

Inovasi Investasi dan Layanan Privilege Antarkan Danamon Raih Dua Penghargaan

Dompet Dhuafa Siapkan 81 Ton Bantuan untuk Penyintas Gempa NTT

Purbaya: Insentif Motor Listrik Sudah Bisa Berlaku Mulai September 2026

7.000 Warga Pulau Palue Butuh Air Bersih, KemePU Kerahkan Tandon dan Survei Geolistrik

Gempa Flores Rusak 4 Pasar Tradisional, Mendag: Pasar Inpres Ruteng Ditutup Sementara

OT Group Konsisten Gelar Upacara Kemerdekaan di Pabrik dan Depo

LG Perkuat Pemasaran WashTower, Gandeng Dealer Spesialis untuk Perluas Edukasi Konsumen

Nelayan Kendari Diimbau Waspadai Gelombang Tinggi dan Angin Kencang pada 19 hingga 22 Agustus 2026

KAI Bangun 8 Tower Rusun MBR di Manggarai, Harga dan Skema Kredit Jadi Sorotan

Triwulan II-2026, Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbun 5,65%

InJourney Destination Bantu Rehab Rumah Nenek Kroniah di Sleman Agar Layak Huni

Driver Ojol Ikut Punya Suara! Pemerintah Libatkan Pengendara dalam Aturan Tarif Baru

Pascagempa di NTT, Kemenhub Pastikan Seluruh Bandara di Flores dan Sekitarnya Tetap Beroperasi Normal

Sumatera Utara Diprediksi BMKG Masih Berpotensi Hujan Sepekan ke Depan

Sejarah Mencatat! Akan Ada Pemain Indonesia Pertama Berlaga di Liga Champions

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.