• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Varises Tak Sekadar Masala...

Varises Tak Sekadar Masalah Estetika, Ini Risiko dan Cara Penanganannya

Rabu, 15 Apr 2026, 14:45 WIB

JAKARTA — Varises masih kerap dianggap sebagai masalah estetika semata, padahal kondisi ini merupakan tanda gangguan serius pada sistem pembuluh darah vena yang dapat berkembang menjadi komplikasi jika tidak ditangani sejak dini.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Emanoel Oepangat, menjelaskan bahwa varises merupakan bagian dari penyakit vena kronis yang terjadi akibat gangguan aliran balik darah di tungkai bawah. Kondisi ini bersifat progresif dan dapat memburuk seiring waktu.

Ket. Foto: Gambaran tentang Varises. Gangguan ini bukan hanya tentang penampilan, tetapi tanda penyakit vena kronis. Kenali gejala, risiko, dan metode penanganannya sebelum berkembang menjadi komplikasi serius. — Sumber: Heartology Cardiovascular Hospital

“Banyak pasien datang ketika sudah muncul keluhan seperti nyeri, bengkak, atau bahkan luka di kaki. Padahal, penanganan sejak awal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius,” ujarnya dalam keterangan di Heartology Cardiovascular Hospital, Jakarta, Selasa (15/4).

Ia menambahkan, jika dibiarkan, varises dapat berkembang menjadi insufisiensi vena kronis, ulkus, hingga trombosis vena dalam yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Secara global, prevalensi varises tergolong tinggi. Data dari World Health Organization dan Journal of Vascular Surgery menunjukkan bahwa kondisi ini dialami sekitar 25 persen perempuan dan 10–15 persen laki-laki.

Pada laki-laki, gejala yang sering muncul meliputi rasa berat pada kaki, nyeri tumpul setelah berdiri lama, pembengkakan di pergelangan kaki, serta munculnya pembuluh darah yang menonjol dan berliku. Kondisi ini banyak ditemukan pada pekerja yang berdiri dalam waktu lama seperti petugas keamanan, tenaga medis, hingga pekerja pabrik, maupun mereka yang duduk terlalu lama seperti pengemudi dan pekerja kantoran.

Sementara itu, perempuan memiliki risiko lebih tinggi akibat faktor hormonal, terutama saat kehamilan dan menopause. Hormon estrogen dan progesteron diketahui dapat melemahkan dinding pembuluh darah, sementara peningkatan tekanan di area perut saat hamil memperberat kerja vena di tungkai.

Gejala varises sendiri umumnya berkembang perlahan dan kerap diabaikan karena dianggap ringan. Padahal, sejumlah tanda awal dapat menjadi indikator gangguan sirkulasi vena, seperti kaki terasa berat dan cepat lelah, pembengkakan di pergelangan kaki terutama pada sore hari, hingga munculnya pembuluh darah halus berwarna kebiruan atau keunguan di bawah kulit.

Pada tahap lebih lanjut, pembuluh darah vena dapat tampak menebal dan berkelok di permukaan kulit, bahkan disertai perubahan warna kulit menjadi lebih gelap di area betis. “Bercak kehitaman di kaki sering disalahartikan sebagai gejala diabetes, padahal bisa menjadi tanda penyakit vena kronis,” kata Emanoel.

Untuk penanganan, Heartology Cardiovascular Hospital menyediakan layanan terpadu melalui Vascular Diagnostic & Therapy Center. Pemeriksaan dilakukan menggunakan teknologi Duplex Ultrasound Vaskular yang mampu menilai fungsi katup vena serta mendeteksi sumbatan secara akurat.

Berdasarkan hasil diagnosis, terapi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari penggunaan kompresi medis untuk memperbaiki aliran darah, sclerotherapy dengan penyuntikan cairan khusus untuk menutup vena bermasalah, hingga prosedur minimal invasif seperti radiofrequency ablation dan terapi laser vena.

“Penanganan varises tidak hanya berfokus pada tampilan luar, tetapi juga memperbaiki fungsi sirkulasi dan mencegah komplikasi jangka panjang. Varises adalah sinyal awal gangguan sistem peredaran darah yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.