Lahan Sempit Bukan Halangan, Palu Genjot Budi Daya Hidroganik

Minggu, 02 Agu 2026, 18:15 WIB

PALU – Pertanian perkotaan kini makin menarik karena mampu memanfaatkan lahan terbatas menjadi sumber pangan yang produktif.

Mulai dari pekarangan rumah, atap bangunan, hingga lahan kosong, semuanya bisa disulap menjadi kebun yang menghasilkan.

Ket. Foto: Pemkot Palu, Sulawesi Tengah, mengembangkan sistem budi daya hidroganik untuk meningkatkan produktivitas pertanian perkotaan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas. — Sumber: ANTARA/HO-Humas Pemkot Palu

Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, pertanian perkotaan juga membuka peluang usaha, mempercantik lingkungan, dan mengajak masyarakat lebih dekat dengan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengembangkan sistem budi daya hidroganik dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian perkotaan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang terbatas.

“Kami mengembangkan hidroganik sebagai salah satu bentuk penerapan Urban Farming yang dapat memanfaatkan lahan sempit secara lebih produktif,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu Lukman di Palu, Minggu (2/8).

Ia menjelaskan hidroganik merupakan sistem budidaya hidroponik berbasis organik yang cocok diterapkan di wilayah perkotaan karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas.

Menurut dia, sistem tersebut mengintegrasikan budidaya tanaman dengan perikanan dalam satu ekosistem. Tanaman menggunakan media berupa campuran tanah dan bokashi, sedangkan di bagian bawah instalasi terdapat kolam ikan yang menghasilkan nutrisi alami bagi tanaman.

Dengan konsep tersebut, kebutuhan unsur hara tanaman diperoleh dari hasil metabolisme ikan sehingga penggunaan pupuk kimia dapat ditekan.

Selain itu, satu instalasi hidroganik dapat digunakan untuk membudidayakan berbagai komoditas, mulai dari sayuran, cabai, tomat, bawang hingga padi.

Sebagai langkah awal pengembangan, Pemkot Palu menebar 3.000 benih lele dan 1.000 benih nila pada dua unit instalasi hidroganik.

Selain penebaran benih ikan, dilakukan pula penanaman bawang varietas Lembah Palu dan bawang merah sebagai komoditas awal yang dikembangkan melalui sistem tersebut.

“Ini menjadi langkah awal pengembangan model pertanian perkotaan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan di Kota Palu,” ujarnya.

Pengembangan hidroganik tersebut turut dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat. DPKP Kota Palu melaksanakan pelatihan budidaya hidroganik yang diikuti 40 peserta, terdiri atas petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma, dan penyuluh pertanian.

Peserta mendapat pembekalan langsung mengenai teknologi budidaya hidroganik dari pemateri sekaligus Owner Bengkel Mimpi asal Kabupaten Malang.

Selain mempelajari budidaya hidroganik, peserta juga dibekali keterampilan membuat komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Lukman mengatakan keterampilan tersebut juga direncanakan diterapkan dalam Program Kelurahan Menanam sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik di tingkat masyarakat.

Ia berharap penerapan teknologi hidroganik dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan ketersediaan pangan sehat bagi masyarakat, serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih produktif dan berwawasan lingkungan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.