Belum Kemarau, Warga Jakarta Sudah Kesulitan Air Bersih

Rabu, 15 Apr 2026, 06:11 WIB

JAKARTA – Ibu Kota Jakarta belum memasuki musim kemarau. Malahan hujan deras masih terus mengguyur. Namun, warga sudah mengalami kesulitan air bersih. Misalnya, ini dialami warga di Jalan H Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Mereka kembali mengeluhkan kesulitan air bersih.

Salah satu warga, Nurliana Sihombing (61), mengaku kesulitan air bersih telah dirasakan sejak pertama kali berlangganan air PAM sekitar 25 tahun lalu.

Ket. Foto: Jakarta banyak hujan tapi warga kesulitan air bersih — Sumber: ist

"Ya enggak belakangan (terjadi krisis air bersih), dari dulu. Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," ujar Nurliana kepada wartawan di lokasi, Selasa.

Wanita paruh baya yang sudah menetap di kawasan tersebut selama lebih dari 30 tahun itu pun kadang bingung lantaran aliran air kembali normal dan bersih setiap tengah malam.

"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 WIB hingga sampai pukul 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," keluhnya.

Kondisi tersebut memaksanya untuk bangun tengah malam demi mendapat pasokan air bersih untuk kebutuhan mandi dan memasak. Rumahnya pun dipenuhi ember kosong yang siap dipenuhi air tampungan di tengah malam untuk kebutuhan sehari penuh.

"Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kalau enggak begitu, enggak punya air bersih," kata dia.

Jika stok air bersih kurang pada siang hari, ia terpaksa menunda mandi atau hanya mandi sekali sehari. Padahal, ia merasa tak pernah telat membayar tagihan setiap bulannya sebesar Rp50 ribu.

"Masalahnya tuh sebenarnya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa, jadi nambah lagi tagihan listriknya," tuturnya.

Kini, ia pasrah dan berharap ada perbaikan infrastruktur secara menyeluruh, bukan sekadar perbaikan sementara yang tak pernah benar-benar menyelesaikan masalah utamanya.

"Ya mudah-mudahan PAM itu dibenarin lah di mana. Maksudnya, anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran," ujar Nurliana.

Sementara itu, Ketua RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Eka mengatakan, masalah air PAM memang sudah berlangsung selama puluhan tahun di wilayahnya. Bahkan, sebagian warga memutuskan kembali melakukan pengeboran untuk beralih menggunakan air tanah, meski kualitasnya tak sebaik air PAM saat normal.

Ia bahkan mengaku pernah terpaksa membuang air yang tak sengaja tercampur oleh air kotor ketika menampung air. "Pas hidupin air PAM, dapat seember dua ember bagus kan airnya. Namun, setelah ditampung lagi tahu-tahu airnya sudah tercampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," katanya.

Eka juga mengaku pernah mengalami kerugian besar karena sudah terlanjur menampung air di toren berkapasitas 500 liter di lantai empat rumahnya saat tengah menampung air pada tengah malam.

"Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ucapnya.

Setelah mengalami kejadian tersebut, Eka pun juga turut memutus sambungan air PAM di rumahnya dan merogoh kocek lebih untuk beralih ke air tanah. Dia menjelaskan warga sebenarnya sudah sering protes dan melaporkan hal ini kepada petugas yang melakukan pengecekan meteran. Bahkan, saat petugas datang, air seringkali dalam keadaan hitam dan berbau.

"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi, sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkapnya. Bahkan terkadang, saat kebetulan air mengalir bening ketika petugas datang, keesokan harinya air kembali hitam pekat dan bau got.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.