Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Ajak Mitra Pakai Mata Uang Sendiri, Biar Transaksi Lebih Praktis

📅 Minggu, 12 Apr 2026, 22:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
RI Ajak Mitra Pakai Mata Uang Sendiri, Biar Transaksi Lebih Praktis Doc: ANTARA
Ket. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan dalam Bank of China Multilateral Business Dialogue, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

JAKARTA – Transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) makin dilirik sebagai strategi buat mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional.

Dengan langsung menggunakan mata uang masing-masing negara mitra, proses transaksi jadi lebih sederhana dan biaya konversi bisa ditekan.

Dari sisi stabilitas, langkah ini juga membantu meredam dampak fluktuasi nilai tukar global. Pelaku usaha jadi punya kepastian yang lebih baik dalam perencanaan bisnis, karena risiko dari pergerakan dolar bisa diminimalkan.

Buat negara seperti Indonesia, ini jadi cara untuk memperkuat posisi rupiah dalam transaksi lintas negara.

Tapi, implementasinya tetap butuh kesiapan, mulai dari kerja sama bilateral, infrastruktur sistem pembayaran, sampai kepercayaan antar pelaku pasar.

Kalau semua itu bisa dijaga, transaksi mata uang lokal bukan cuma alternatif, tapi bisa jadi fondasi baru dalam sistem perdagangan yang lebih mandiri dan stabil.

Pemerintah mendorong pengoptimalan pemanfaatan local currency transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal, sebab sebagian besar mitra dagang utama Indonesia merupakan negara dengan ekonomi nondolar.

“Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Sabtu (11/4).

Saat ini, partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai sekitar 10–19 persen dari total Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT). Hal ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan dan ruang yang signifikan untuk ekspansi lebih lanjut.

Kerangka LCT Indonesia telah terus berkembang sejak diluncurkan pada 2018. Pemanfaatannya telah meluas pada berbagai sektor utama, termasuk manufaktur, listrik dan gas, transportasi, perdagangan, dan jasa.

Pemanfaatan itu menunjukkan peran LCT sebagai instrumen nyata untuk memperkuat rupiah dan mendukung kegiatan sektor riil.

Pada 2025, kerangka LCT telah diimplementasikan dengan enam mitra utama yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab.

Kerja sama juga diperkuat melalui perluasan dan peningkatan pengaturan bilateral yang mencerminkan kemajuan signifikan guna memperdalam kerja sama keuangan regional dan mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas.

Ferry menyampaikan transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi dan adopsi pasar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Para Kader Posyandu Tangera...

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

40 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

45 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...

Pembangunan SDM, Sekolah-sekolah di Tangsel Bersifat Inklusif

47 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.