Menahan Harga di Tengah Tekanan: Kisah Perajin Tahu Kudus Bertahan

Selasa, 07 Apr 2026, 16:45 WIB

KUDUS – Di sudut-sudut dapur produksi tahu di Kudus, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena sepinya pesanan, melainkan karena angka-angka yang terus bergerak naik di balik layar—harga kedelai impor yang kini menyentuh Rp10.700 per kilogram.

Angka itu diam-diam mengubah ritme para perajin, yang setiap hari harus menimbang antara bertahan atau menyesuaikan.

Ket. Foto: Aktivitas produksi tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, Jateng di tengah lonjakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utamanya, Selasa (7/4/2026). — Sumber: ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Bagi mereka, kenaikan harga bahan baku bukan sekadar statistik, melainkan tekanan nyata pada margin usaha yang kian menipis. Namun, di sisi lain, harga tahu di pasar masih tertahan.

Para perajin memilih menunggu, membaca arah pasar, sekaligus menjaga pelanggan agar tidak lari. Ada kekhawatiran sederhana: sekali harga dinaikkan, belum tentu pembeli kembali.

Dalam ruang-ruang produksi yang hangat oleh uap rebusan kedelai, strategi pun diracik. Ada yang mengurangi ukuran, ada yang menekan biaya lain, dan ada pula yang berharap harga kedelai segera stabil. Semua dilakukan sambil menahan diri untuk tidak gegabah mengubah harga jual.

Kisah ini mencerminkan dilema klasik pelaku usaha kecil—ketika biaya produksi melonjak, tetapi daya beli belum tentu siap mengikuti.

Di tengah ketidakpastian itu, para perajin tahu di Kudus memilih bersabar, menjaga keseimbangan rapuh antara keberlangsungan usaha dan kepercayaan pelanggan.

"Sejak sebelum Lebaran harga jual kedelai memang naik bertahap, dari semula Rp9.500 per kilogram hingga hari ini (7/4) melonjak menjadi Rp10.700/kg," kata salah satu produsen tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Nur Rosyid di Kudus, Selasa (7/4).

Meskipun terjadi kenaikan, kata dia, pihaknya belum berani menaikkan harga jual tahu, mengingat pengalaman sebelumnya kenaikan harga bersifat sementara.

Untuk itu, imbuh dia, selain melihat perkembangan harga jual kedelai impor, juga sambil memonitor kompetitor produk yang sama sudah ada yang menaikkan harga atau belum.

"Jika kenaikan harga jual tahu tidak bersamaan, salah satu produsen bisa kehilangan pelanggan karena beralih ke produsen tahu lain yang harganya masih stabil," ujarnya.

Dengan kenaikan harga bahan baku kedelai tersebut, dia mengakui, mengalami penurunan keuntungan hingga 30-an persen. Namun, sepanjang masih ada keuntungan akan tetap bertahan, ketika produsen lain juga belum ada yang menaikkan harga jualnya di pasaran.

Seiring persaingan yang semakin ketat, kapasitas produksi tempat usahanya semakin menurun karena sebelumnya bisa mencapai 1 ton kedelai per hari, kini hanya 3 kuintal kedelai per harinya.

Untuk harga jual tahu per papan sebesar Rp35.000, sedangkan untuk eceran yang berukuran sedang dijual Rp1.000 per buah dan ukuran besar Rp1.200 per buah. Sedangkan produksinya untuk tahu berukuran sedang bisa mencapai 2.400 buah, sedangkan ukuran besar sekitar 1.000 buah, selebihnya tahu cetakan papan.

Selain dijual di pasar lokal Kudus, tahu hasil produksinya juga dijual hingga pasar Demak.

Sementara itu, Manajer Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma'ruf membenarkan adanya kenaikan harga jual kedelai impor, saat ini dijual Rp10.500/kg.

"Kenaikan harga jual kedelai impor bertahap, sejak sebelum Lebaran harga jualnya berkisar Rp10.000-an," ujarnya.

Informasi yang berkembang, kenaikan harga jual kedelai impor tersebut dipicu adanya perang antara Amerika dan Israel yang menyerang Iran, sehingga berdampak pada biaya transportasi pada komoditas impor tersebut.

Meskipun demikian, dia menjamin, stok masih aman karena di gudang tersedia 60 ton. Sedangkan permintaan setiap harinya berkisar 10-20 ton.

Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi, dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kudus Sonhaji membenarkan adanya kenaikan harga jual kedelai impor.

"Untuk stok di pasaran masih relatif aman, sehingga pengusaha tahu maupun tempe di Kudus tidak perlu khawatir," ujarnya.

Perkembangan harga jual di pasaran, kata dia, akan terus dipantau secara rutin di sejumlah pasar tradisional dan dilaporkan ke pusat untuk menjadi perhatian.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

85 Ribu Hektare Kawasan Konsesi Perusahaan Terbakar akibat Karhutla.

Wali Kota Pontianak Apresiasi Relawan Tangani Karhutla dan Dampak Kualitas Udara.

Polres Tanah Laut Tingkatkan Penanganan Karhutla, Pemadaman Dipercepat.

357,59 Hektare Terdampak Karhutla, BPBD Banjarbaru Perkuat Penanganan.

Cegah Karhutla Meluas, Sekolah di Jambi Diimbau Gelar Shalat Istisqa.

Presiden Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum bagi Pelaku Karhutla di Kalimantan.

Yura Yunita Bikin Penonton Tegang! Terbang sebagai Mahadewi, Ternyata Naik Motor di Balik Panggung

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kolom Abu 400 Meter! Nelayan dan Wisatawan Diminta Waspada

NeKat Buang Sampah Sembarangan di Ciracas, Warga Langsung Kena OTT dan Denda Rp500 Ribu

Siapkan Joran! Pemkot Tangerang Siram Situ Gede 1 Ton Ikan Lele untuk "Mancing Bersama"

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Berbahaya, Karhutla Kepung Perumahan Dekat Bandara Internasional Syamsudin Noor Kalsel

Film “Jumbo” Tayang di AS, KJRI Houston Hadirkan Pemutaran Perdana

Prabowo Datangi Karhutla di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Optimal

Cip Penglihatan Hemat Energi Dikembangkan Tim Ilmuwan Dipimpin Tiongkok

Persija Pinjamkan Striker Mauro Zijlstra ke Arema Malang

Ngeri Banget, Uang Palsu Rp 36 Miliar Buatan Tangsel Akan Dicampur dengan Uang Asli dari Bank

Arema Resmi Dapat Amunisi Baru, Persija Pinjamkan Mauro Zijlstra ke Kanjuruhan

Bukan Sekadar Hobi, Industri Modifikasi Otomotif jadi Bagian Ekraf, Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi

Pameran helikopter dan taksi udara di Cengkareng Heliport

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.