Gunung Gede Pangrango Buka Jalur Pendakian 13 April dengan Gelang RFID Khusus

Selasa, 07 Apr 2026, 15:51 WIB

CIANJUR -- Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kembali membuka jalur pendakian setelah enam bulan ditutup dimana setiap pendaki akan mendapat gelang khusus Radio Frequency Identification (RFID) guna mengantisipasi pendakian ilegal saat pembukaan pada 13 April 2026.

Humas TNGGP Agus Deni di Cianjur, Kamis, mengatakan saat dibuka jalur pendaki kemungkinan akan dilakukan ujicoba penggunaan gelang tersebut sehingga dapat mendeteksi keberadaan pendaki dan membedakan pendaki ilegal atau tidak mendaftar secara online.

Pendaki yang sempat melakukan pendaftaran secara online dapat segera menghubungi pusat layanan atau call center untuk melakukan penjadwalan ulang karena kuota per hari masih sama sebanyak 300 pendaki yang dapat melakukan pendakian dari 3 pintu masuk pendakian.

Ket. Foto: Pintu pendakian ke Gunung Gede-Pangarango via Gunung Putri di Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat. — Sumber: ANTARA/Ahmad Fikri

"Gelang khusus yang akan dipakai calon pendaki bertujuan untuk memastikan keselamatan pendaki dan mempermudah pencarian saat terjadi pendaki dilaporkan hilang, namun kami belum tahu teknis-nya nanti seperti apa " katanya.

Dia menjelaskan gelang RFID menggunakan teknologi nirkabel yang menggunakan gelombang radio untuk mengidentifikasi dan melacak objek secara otomatis melalui label elektronik, sekaligus dapat menjadi penanda pendaki yang naik secara prosedural atau legal.

Sehingga, saat pendakian kembali dibuka, kemungkinan masing-masing calon pendaki akan mendapat gelang RFID dengan tujuan untuk keselamatan dan mempermudah pencarian saat terjadi hal tidak diinginkan menimpa pendaki.

"Kami masih menunggu informasi untuk penerapannya seperti apa, termasuk nanti tata pengembalian gelang yang dipakai karena penerapannya akan dilakukan Dirjen Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi," katanya.

Dia mengimbau seiring dibukanya kembali jalur pendakian, para pendaki menjadi pendaki cerdas yang tidak naik secara ilegal serta tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

"Pendakian sempat ditutup selama enam bulan karena sampah dan perbaikan sistem pengelolaan, sehingga kami berharap para pendaki menjadi pendaki cerdas dengan tidak meninggalkan sampah dan merusak kelestarian alam di taman nasional," katanya.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.