IHSG Tersungkur! Investor Ketar-Ketir Pantau Bara Konflik Timur Tengah
Senin, 06 Apr 2026, 18:07 WIBJAKARTA â Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah eskalasi tensi di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Secara analitis, tekanan terhadap IHSG terutama datang dari dua arah. Pertama, potensi konflik yang meluas meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, yang berujung pada kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi. Kondisi ini dapat mempersempit ruang kebijakan moneter domestik serta menekan kinerja sektor-sektor sensitif biaya.
Kedua, meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven memicu arus keluar modal asing dari pasar saham. Aksi jual investor asing ini memperbesar tekanan pada IHSG, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/4) sore, ditutup melemah 37,35 poin atau 0,53 persen ke posisi 6.989,43, seiring pelaku pasar bersikap hati-hati dalam mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,82 poin atau 0,95 persen ke posisi 707,76.
âBursa Asia bergerak mixed seiring investor mulai bersikap hati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah,â ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari kelanjutan konflik di kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat (AS), Iran, dan sejumlah mediator regional dilaporkan tengah merundingkan syarat untuk potensi gencatan senjata selama 45 hari, yang dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu baru bagi Iran, dan meningkatkan ancaman terhadap pembangkit listrik serta infrastruktur sipil lainnya apabila Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Dari dalam negeri, IHSG melemah karena defisit anggaran Indonesia tercatat sebesar Rp240,1 triliun pada kuartal I-2026, atau setara 0,93 persen dari PDB. Belanja pemerintah melonjak 31,3 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp815 triliun, sementara pendapatan negara meningkat 10,5 persen menjadi Rp574,9 triliun.
Pendapatan pemerintah didukung oleh penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun, yang naik 20,7 persen. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp67,9 triliun, turun 12,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun, juga mengalami penurunan sebesar 3 persen.
Total belanja pemerintah terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp610,3 triliun yang meningkat signifikan sebesar 47,7 persen, serta transfer ke daerah sebesar Rp204,8 triliun yang sedikit menurun 1,1 persen.
Di sisi lain, pelaku pasar mencermati kabar bahwa unit sovereign wealth fund Danantara menandatangani kesepakatan pada 1 April 2026, untuk mengakuisisi unit manajemen investasi milik bank-bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, BRI, dan BNI, serta PT Permodalan Nasional Madani dengan nilai Rp2,7 triliun, yang masih menunggu persetujuan.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 2,25 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor energi yang naik masing-masing sebesar 1,29 persen dan 0,57 persen.
Sedangkan tujuh sektor melemah yaitu sektor barang konsumen primer turun paling dalam sebesar 0,98 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor teknologi yang turun masing-masing sebesar 0,96 persen dan 0,89 persen
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu VOKS, ESIP, FORE, IFSH dan POLA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DEFI, ALKA, DATA, RLCO dan SOTS.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.660.045 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 29,21 miliar lembar saham senilai Rp15,24 triliun. Sebanyak 255 saham naik, 412 saham menurun, dan 151 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 262,01 poin atau 0,49 persen ke 53.385,50, indeks Shanghai melemah 39,19 atau 1,00 persen ke 3.880,10, indeks Hang Seng melemah 177,50 poin atau 0,70 persen ke posisi 25.116,53, dan indeks Straits Times menguat 21,44 poin atau 0,43 persen ke posisi 4.968,94.
- Ihsg hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kabar Buruk! Rodri dan Ruben Dias Tumbang, Manchester City Terancam Gagal Salip Arsenal?
-
Resmi Dilantik Gubernur Pramono, Cek Daftar Nama Pejabat Baru di Lingkungan Pemprov DKI
-
Akibat Cuaca Ekstrem, Jembatan Ciwarunga Terputus sehingga Ganggu Aktivitas Warga
-
Rahasia Efisiensi Armada: Bagaimana MPMRent Pertahankan Tingkat Utilisasi di Tengah Dinamika Pasar
-
Jadwal KRL Jakarta Kota–Bogor Berubah, Ini Rincian Lengkap Penyesuaian Terbaru
-
Krisis Bahan Baku Tekan Industri Makanan dan Minuman
-
Mangrove Desa Sugian Jadi Perhatian, Warga Lombok Timur Diminta Ikut Menjaga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.