Update Aceh Tamiang: Pengungsi Tinggal 1 Persen, Pemerintah Targetkan Huntara Beres Pekan Depan

Sabtu, 04 Apr 2026, 21:20 WIB

JAKARTA - Pemerintah memastikan percepatan penanganan pengungsi pascabencana di Aceh Tamiang terus berjalan. Fokus utama diarahkan pada pemenuhan hunian serta kebutuhan dasar warga terdampak.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera meninjau langsung kondisi pengungsi di sejumlah desa di Kecamatan Sekerak. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai target.

Ket. Foto: Pemerintah memastikan percepatan penanganan pengungsi pascabencana di Aceh Tamiang terus berjalan. Fokus utama diarahkan pada pemenuhan hunian serta kebutuhan dasar warga terdampak. — Sumber: Istimewa

Dalam peninjauan tersebut, pemerintah berdialog langsung dengan warga di Desa Lubuk Sidup, Tanjung Gelumpang, dan Sekumur. Ketiga wilayah ini menjadi titik yang masih menyisakan pengungsi pascabencana.

"Yang pemerintah sampaikan adalah mendekati 100 persen pengungsi sudah tidak tinggal di tenda. Dari awalnya sekitar 2,1 juta jiwa, kini tersisa sekitar 1.000 orang atau sekitar 300 kepala keluarga," ujarnya.

Penurunan jumlah pengungsi ini menunjukkan progres signifikan dalam penanganan pascabencana. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan perhatian penuh terhadap warga yang masih bertahan di pengungsian.

Wilayah Aceh Tamiang dan Bireuen menjadi prioritas dalam penanganan sisa pengungsi. Di Bireuen, pemerintah tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap sebagai solusi jangka panjang.

"Kemudian yang masuk ke daerah Sekerak ini, saya mau lihat satu per satu dan bagaimana penyelesaiannya," katanya.

Selain itu, pembangunan hunian sementara terus dipercepat di sejumlah desa. Pemerintah optimistis proses tersebut dapat segera rampung dalam waktu dekat.

"Mudah-mudahan cuaca mendukung, sehingga akhir minggu depan pembangunan hunian sementara bisa diselesaikan," ujarnya.

Namun, proses pembangunan masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya adalah akses jalan yang terdampak longsor sehingga memperlambat distribusi material.

Di luar hunian, pemerintah juga memastikan bantuan kebutuhan dasar tetap disalurkan. Bantuan tersebut meliputi bahan pangan, peralatan rumah tangga, hingga dukungan ekonomi bagi warga.

Kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian utama dalam penanganan pengungsi. Pemerintah berencana membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan tersebut sesuai aspirasi masyarakat.

Selain hunian sementara, pemerintah juga menyiapkan pembangunan hunian tetap secara terpusat. Rencana ini disesuaikan dengan keinginan warga yang ingin direlokasi dari kawasan rawan bencana.

"Tadi saya sudah dengar langsung dari masyarakat, mereka menghendaki agar dibangunkan hunian tetap dalam bentuk kompleks," ujarnya.

Pembangunan hunian tetap akan dilakukan setelah ketersediaan lahan dipastikan. Proses ini melibatkan berbagai kementerian terkait untuk mempercepat realisasi.

Selama masa transisi, pemerintah menjamin seluruh kebutuhan pengungsi tetap terpenuhi. Bantuan sosial akan terus diberikan hingga warga dapat menempati hunian permanen.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan berbagai bantuan langsung kepada warga. Bantuan tersebut mencakup perlengkapan ibadah, sembako, hingga fasilitas penyimpanan air.

Sejumlah pejabat pusat dan daerah turut hadir dalam kegiatan peninjauan tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

Dengan progres yang terus berjalan, pemerintah optimistis penanganan pengungsi di Aceh Tamiang dapat segera tuntas. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memastikan pemulihan berjalan menyeluruh.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.