IHSG Dihantam Paket Lengkap dari MSCI hingga Konflik Global, Koreksi Sepanjang 2026 Capai 18,74 Persen
Jumat, 03 Apr 2026, 20:20 WIBJAKARTA â Pasar saham Indonesia tampaknya sedang menghadapi paket lengkap tekanan di awal tahun ini. Setelah sebelumnya dihantam sentimen dari laporan MSCI, kini datang lagi gelombang baru dari eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israelâdan dampaknya terasa cukup dalam ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Secara angka, koreksi hingga 1.620 poin atau sekitar 18,74 persen per 2 April 2026 jelas bukan penurunan biasa. Ini sudah masuk kategori tekanan besar, yang mencerminkan perubahan sikap investor dari optimistis menjadi jauh lebih hati-hati.
Kalau ditarik benangnya, ada pola yang cukup jelas: ketika geopolitik memanas, pasar langsung masuk mode risk-off. Investor global memilih keluar dari aset berisiko seperti sahamâterutama di negara berkembangâdan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Akibatnya, arus dana keluar (capital outflow) jadi sulit dihindari, dan IHSG ikut terkoreksi. Bahkan, pelemahan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga sejalan dengan bursa regional lain yang sama-sama tertekan.
Di sisi lain, konflik ini juga membawa kekhawatiran yang lebih luas, terutama soal energi. Ancaman gangguan distribusi minyakâmisalnya dari kawasan strategis seperti Selat Hormuzâmembuat pasar makin gelisah.
Buat investor, ini bukan sekadar isu politik, tapi langsung berkaitan dengan inflasi global, biaya produksi, hingga kinerja emiten.
Kondisi IHSG sekarang seperti sedang âditarik dari dua arahâ. Dari dalam, ada tekanan struktural seperti isu MSCI yang sempat mengganggu kepercayaan pasar. Dari luar, ada gelombang besar geopolitik yang bikin investor global memilih menepi dulu.
Jadi, koreksi dalam yang terjadi sejauh ini bukan sekadar reaksi sesaat, tapi kombinasi dari sentimen global dan domestik yang bertemu di waktu yang kurang ideal.
Tantangan ke depan bukan cuma soal rebound, tapi bagaimana pasar bisa menemukan kembali pijakan di tengah ketidakpastian yang masih cukup tebal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) sore, ditutup melemah 157,66 poin atau 2,19 persen ke posisi 7.026,78 dipicu oleh pidato nasional Presiden AS, Donald Trump yang tidak memberikan kejelasan mengenai waktu penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,21 poin atau 1,68 persen ke posisi 714,58.
Sebagai perbandingan, IHSG pada 30 Desember 2025 atau bertepatan dengan hari terakhir perdagangan Bursa Tahun 2025, ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.
âBursa Asia didominasi pelemahan, seiring kembalinya kehati-hatian investor setelah pidato utama Presiden AS Donald Trump yang tidak memberikan kejelasan mengenai waktu penyelesaian konflik di Timur Tengah,â ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (3/4).
Dari mancanegara, meskipun Trump menyatakan bahwa operasi AS hampir selesai, namun juga menegaskan akan mengambil langkah yang lebih agresif, termasuk kemungkinan serangan terhadap pembangkit listrik dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Sementara itu, dari dalam negeri, IHSG melemah mengikuti bursa kawasan Asia, serta seiring lesunya data ekspor serta pertumbuhan impor yang solid.
Pada saat sama, kehati-hatian investor meningkat menjelang rilis data cadangan devisa Maret 2026, setelah posisi Februari 2026 turun ke level terendah dalam tiga bulan.
Nico mengatakan harga minyak mentah global yang tinggi, serta risiko geopolitik terus menimbulkan potensi kenaikan inflasi, meskipun secara tahunan angka inflasi turun menjadi 3,48 persen pada Maret 2026, dan kembali masuk dalam target Bank Indonesia (BI).
Di sisi lain, BI telah memperkenalkan sejumlah langkah baru untuk menekan spekulasi, menegaskan prioritasnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor menguat yaitu sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 0,59 persen.
Sedangkan sepuluh sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 4,96 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor energi yang turun masing-masing sebesar 3,93 persen dan 2,73 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ALKA, MSIN, BEER, YPAS dan ASPR. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni NSSS, DATA, FWCT, ATAP dan TALF.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.014.275 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 31,54 miliar lembar saham senilai Rp16,47 triliun. Sebanyak 475 saham naik, 209 saham menurun, dan 135 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 1.290,68 poin atau 2,40 persen ke 52.449,00, indeks Shanghai melemah 29,27 atau 0,74 persen ke 3.919,29, indeks Hang Seng melemah 177,50 poin atau 0,70 persen ke posisi 25.116,53, dan indeks Straits Times menguat 28,33 poin atau 0,57 persen ke posisi 4.947,50.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
IHSG Hari Ini Menguat Mengikuti Bursa Asia dan Global
-
IHSG Hari Ini Berpotensi Volatil di Tengah Sikap Wait and See Pertemuan The Fed
-
Alarm Pasar Saham: IHSG Anjlok Nyaris 20% Sepanjang 2026
-
IHSG naik pada hari pertama penerapan WFH bagi ASN
-
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat, Pasar Cermati Arah Moneter Global di Tengah Konflik AS-Iran
-
Pergerakan indeks harga saham gabungan
-
IHSG Dibuka Menguat 2,75 Persen, Mengikuti Bursa Asia Seiring Trump Kembali Tunda Serangan ke Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.