Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Ungkap Dampak Psikologis Mudik: Waspada Post-Holiday Blues Setelah Liburan
📅 Kamis, 26 Mar 2026, 10:55 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan fenomena mudik bukan sekadar mobilitas, melainkan ritual sosial yang sarat makna, yang dapat memunculkan dinamika psikologis, yakni post-holiday blues atau tantangan kesehatan mental setelah liburan, dan ada kiat sederhana untuk mengatasinya.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi di Jakarta, Kamis, mengatakan setelah Lebaran, banyak orang mengalami gejala, seperti sedih, lelah, cemas, kehilangan motivasi, dan sulit berkonsentrasi, akibat sejumlah faktor, antara lain perjalanan panjang, tekanan finansial, dan ekspektasi untuk tampil sukses.
"Survei World Travel & Tourism Council (WTTC) tahun 2023, mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang," kata Imran.
Menurutnya, fenomena ini memiliki dampak luas, seperti produktivitas kerja menurun, biaya ekonomi meningkat akibat absensi dan penurunan kinerja, serta risiko gangguan mental lebih serius jika tidak ditangani. Rendahnya angka pencarian bantuan di Indonesia, karena stigma dan keterbatasan layanan menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan.
Dia menyebutkan cara mengatasi post-holiday blues cukup sederhana, tetapi membutuhkan kesadaran diri dan konsistensi. Setelah libur panjang, sebaiknya lakukan transisi secara bertahap, misalnya ambil satu hingga dua hari untuk menata ulang rutinitas sebelum kembali bekerja penuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Menjaga rutinitas kesehatan dasar juga penting. Tidur teratur, makan seimbang dan olahraga ringan dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi kembali," katanya.
Selain itu, tetap menjaga koneksi sosial sangat bermanfaat. Menjadwalkan panggilan video dengan keluarga atau sahabat bisa mengurangi rasa kehilangan setelah kembali ke kota.
Membatasi paparan media sosial juga perlu, karena sering kali perbandingan dengan kehidupan orang lain justru memperburuk suasana hati. Memanfaatkan ruang publik, seperti taman atau komunitas olahraga dapat mengurangi rasa isolasi dan menghadirkan energi positif.
"Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater," katanya.
Kini banyak layanan tersedia secara online, sehingga akses bantuan lebih mudah dan cepat. Dengan langkah-langkah ini, post-holiday blues bisa diatasi, dan liburan tetap menjadi kenangan indah tanpa meninggalkan beban psikologis berkepanjangan.
Dia menyebutkan Lebaran 2026 diprediksi menjadi salah satu arus mudik terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan lebih dari 120 juta perjalanan dilakukan selama periode mudik, dengan puncak arus balik mencapai rekor kepadatan di jalur tol Trans-Jawa dan jalur kereta api.
Imran mengatakan post-holiday blues adalah sebuah fenomena global, yang ditemukan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru, banyak negara melaporkan peningkatan masalah kesehatan mental.
Contohnya, di Amerika Serikat, sekitar 6,2 persen orang dewasa mengalami gejala Christmas Depression setiap tahun, dan antara 4,1 persen hingga 8,2 persen memenuhi kriteria klinis selama musim liburan.
Kemudian, katanya, kelompok rentan di Indonesia menghadapi tantangan kesehatan mental yang cukup khas setelah libur panjang, terutama setelah Lebaran. Remaja dan mahasiswa sering kali lebih mudah mengalami gangguan emosional, karena masa transisi mereka yang penuh tekanan, baik akademik maupun sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!