Angkatan Laut Inggris Siap Pimpin Koalisi Buka Selat Hormuz

Kamis, 26 Mar 2026, 00:00 WIB

BRUSSELS - Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang bersiap untuk mengambil peran utama dalam potensi operasi koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz, menurut laporan The Times edisi Selasa (24/3).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pejabat pertahanan Inggris sedang mempertimbangkan rencana untuk mengerahkan kapal Angkatan Laut atau kapal komersial sewaan untuk berfungsi sebagai kapal induk untuk sistem otonom tanpa awak yang dirancang untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Ket. Foto: Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pada 3 Maret 2026 bahwa Inggris mengirimkan “helikopter dengan kemampuan anti-drone” dan sebuah kapal perang, HMS Dragon, ke Siprus karena Inggris melanjutkan “operasi pertahanan” di wilayah tersebut. — Sumber: AFP/JUSTIN TALLIS

Inisiatif itu akan menjadi bagian dari upaya multinasional yang lebih luas yang melibatkan sekutu, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Prancis, untuk memastikan jalur aman bagi pelayaran komersial melalui selat tersebut, salah satu jalur transit terpenting di dunia.

Para pejabat yang dikutip oleh The Times mengatakan operasi tersebut dapat berlangsung dalam beberapa fase. Tahap awal akan fokus pada perburuan ranjau menggunakan sistem otonom canggih yang diluncurkan dari kapal induk.

Fase kedua dapat melibatkan pengerahan kapal permukaan tanpa awak bersama dengan kapal perusakAngkatan Laut Tipe 45 atau hanya kapal perusak, untuk melindungi kapal tanker yang melintasi area tersebut.

"Kami memiliki kemampuan terdepan di dunia dalam hal perburuan ranjau otonom, serta kemampuan kapal perusak yang fantastis dengan Tipe 45 kami, dan juga pengembangan konsep angkatan laut hibrida, yang memberi kami peluang untuk menghindari membahayakan orang demi mengamankan selat," kata seorang pejabat.

Para pejabat pertahanan Inggris itu percaya bahwa ranjau laut telah ditanam di selat tersebut, meski masih ada jalur yang jelas karena kapal-kapal India, Pakistan, dan Tiongkok terus melintasi jalur air tersebut.

Eskalasi regional di Timur Tengah terus berlanjut sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan misil berulang kali yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selat Hormuz juga telah secara efektif terhambat sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati selat tersebut setiap hari, dan gangguan itu telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

  • selat hormuz

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Eko S, M. Selamet Susanto, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.