- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO Desak Diselesaikannya ...
WHO Desak Diselesaikannya Kesepakatan Pandemi
Rabu, 25 Mar 2026, 02:30 WIBJENEWA -Â Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (23/3) mendesak negara-negara untuk menyelesaikan bagian yang hilang dari perjanjian pandemi yang dirancang untuk menghindari kepanikan dan kekacauan Covid-19 pekan ini.
Negara-negara anggota WHO yang bertemu di markas besar badan kesehatan PBB di Jenewa, Swiss, memiliki waktu hingga Sabtu (28/3) untuk membahas bagian tersulit dari seluruh perjanjian terkait detail tentang bagaimana bagian penting dari teks tersebut akan berfungsi dalam praktiknya.
"Kita harus menyelesaikan ini. Pandemi berikutnya tidak akan menunggu," tegas kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Ia pun mendesak negara-negara untuk tidak terkecoh oleh godaan berbahaya untuk memilih waktu negosiasi yang lebih lama, karena iklim yang semakin tidak menguntungkan hanya akan berarti kesepakatan ini akan menjadi lebih sulit, bukan lebih mudah.
Pada Mei 2025 lalu, negara-negara anggota WHO mengadopsi perjanjian pandemi penting tentang penanganan krisis kesehatan di masa depan, setelah lebih dari tiga tahun negosiasi yang dipicu oleh guncangan Covid-19.
Kesepakatan ini bertujuan untuk mencegah pandemi di masa depan menyebabkan respons yang tidak terkoordinasi dan kekacauan internasional seperti yang terjadi selama krisis virus korona, dengan meningkatkan koordinasi global, pengawasan, dan akses terhadap vaksin.
Namun, inti dari perjanjian ini yaitu sistem Akses dan Pembagian Manfaat Patogen (PABS), dikesampingkan agar kesepakatan dapat diselesaikan.
Negara-negara diberi waktu satu tahun lagi untuk menyelesaikan detail bagaimana sistem tersebut akan beroperasi
Mekanisme PABS (Pharmaceutical Assistance and Benefits Scheme) mengatur tentang berbagi akses terhadap patogen yang berpotensi menjadi pandemi, kemudian berbagi manfaat yang diperoleh darinya: vaksin, tes, dan pengobatan.
Negara-negara ditugaskan untuk menyelesaikan PABS sebelum Sidang Majelis Kesehatan Dunia berikutnya, badan pembuat keputusan WHO, pada pertengahan Mei.
Belum Sampai
Tedros pada Senin (23/3) lalu menyambut kembali para negosiator untuk pertemuan keenam dan yang mereka semua harapkan akan menjadi pertemuan terakhir untuk menyelesaikan PABS.
"Kita sudah sangat dekat, tetapi tentu saja kita belum sampai di sana," kata dia seraya memperingatkan bahwa itu mungkin satu-satunya kesempatan untuk mengamankan hasil.
"Konflik di Timur Tengah dan krisis di tempat lain di dunia kita adalah pengingat bahwa keadaan darurat kesehatan dapat meletus tiba-tiba dan memengaruhi banyak negara, meningkatkan risiko wabah penyakit."
Tedros, yang memimpin WHO selama Covid-19, mengatakan negara-negara harus bertanya pada diri sendiri apakah teks tersebut akan menyelesaikan masalah yang dihadapi selama pandemi. "Kita perlu melakukan segala daya upaya kolektif kita untuk menyelesaikan (kesepakatan) agar kita tidak menyia-nyiakan empat setengah tahun terakhir," kata dia.
"Jika tidak, kita akan tetap pada status quo dimana tidak ada sistem PABS, dan Perjanjian Pandemi yang hanya ada di atas kertas," pungkas dia. AFP/I-1
- Pandemi
- covid-19
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Manimbora, Monumen Ketenangan di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
-
Pemerintah Sebut Program MBG Dorong Ketahanan Pangan
-
Mudik Lebaran 2026: 313 Ribu Penumpang Diprediksi Melintas di Bandara Sepinggan Balikpapan, Dipicu Aktivitas IKN
-
Papua Setop Sawit, Gubernur Mathius Fakhiri Dorong Kakao Gantikan Lahan Eks Perkebunan
-
Bandara Sentani Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Terjadi 18 Maret
-
Yaman Memanas, Kemenlu Terus Pantau Situasi
-
ZIS Rp3,5 Miliar Telah Disalurkan Baznas Kulon Progo pada 8.149 Mustahik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.