Manimbora, Monumen Ketenangan di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia

Jumat, 13 Mar 2026, 07:11 WIB

JIKA dilihat dari peta digital Manimbora hanya seperti setitik noda di wilayah Kepulauan Derawan yang luas. Namun meskipun mungil pulau yang berada di lautan Selat Makassar memiliki kekhasan tersendiri.

Manimbora seperti layaknya pulau-pulau yang ada di film kartun khususnya  Spongebob Squarepants. Berada di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau kerap dijuluki sebagai pulau SpongeBob.

Ket. Foto: Manimbora Beach merupakan destinasi tersembunyi yang dikenal dengan julukan “Pulau Spongebob”. Keindahan pantainya begitu memikat, dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih. Lokasinya yang masih alami menjadikannya tempat ideal untuk mencari ketenangan dan menikmati suasana tropis yang menenangkan. — Sumber: Foto: Kementerian Pariwisata RI

Julukan itu karena ukuran pulau ini sangat kecil dan sederhana, hanya ada beberapa pohon kelapa, selain itu tak ada orang yang tinggal di ini sehingga tidak ada rumah, dan juga bangunan. Kondisi ini membuat pulau tampak seperti pulau terpencil di tengah laut, sama seperti pulau-pulau kecil dalam cerita animasi.

Memiliki luas yang kecil, yakni sekitar 2,0 hektar, daratan ini ini terkenal dengan pasir putih dan pepohonan, serta berada dalam kawasan gugusan Kepulauan Derawan. Ada puluhan pohon kelapa yang berdiri menjulang, selain pohon yang lebih pendek yang bisa dijadikan ­peneduh.

Di permukaan pasirnya tumbuh rumput yang seolah seperti permadani hijau. Keberadaan pepohonan dan rumput ini menciptakan warna kontras dengan pasir putih dan birunya lautan yang ada di sekelilingnya.

Meski hanya tampak seperti setitik debu setitik debu namun Manimbora seperti magnet bagi mereka yang menyukai destinasi wisata bahari. Pulau ini sangat terkenal sehingga memikul beban popularitas global berkat kemiripannya dengan pulau ikonis dalam pembukaan kartun Spongebob Squarepants.

Namun, di balik label “Pulau Spongebob” yang jenaka, Manimbora menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih dalam yaitu  tentang sejarah yang membatu, alam yang rapuh, dan kesunyian yang menjadi bahasa utama.

Visi Tropis

Perjalanan menuju Manimbora adalah sebuah ritual visual. Biasanya, wisatawan berangkat dari Pulau Derawan atau Maratua menggunakan speedboat bermesin ganda. Selama 45 hingga 60 menit, mata akan dimanjakan oleh gradasi warna air yang berpindah dari hijau giok menuju biru kobalt yang pekat.

Walaupun pemandangan sangat menawan Manimbora selama ini memang bukan destinasi utama. Wisatawan hanya mampir ke sini setelah mengunjungi berbagai pulau di Kepulauan Derawan seperti Sangalaki, Kakaban dan Maratua.

Saat daratan Manimbora mulai menyembul di cakrawala, detak jantung seolah melambat. Pulau ini berdiri sendirian, terisolasi dari gugusan pulau besar lainnya yang berada di sisi utara.

Struktur geografisnya begitu unik: hamparan pasir putih yang sangat bersih, dengan sekelompok pohon kelapa yang tumbuh menjulang tinggi tepat di tengah-tengahnya. Proporsinya begitu simetris, seolah seorang seniman raksasa sengaja menaruhnya di sana untuk melengkapi komposisi lautan.

Begitu perahu merapat, tidak ada dermaga kayu yang menyambut. Penumpang harus melompat ke air setinggi lutut dan berjalan menuju pantai.

Pasirnya bukan sekadar putih, melainkan memiliki tekstur sehalus bedak bayi yang akan menyelip di sela-sela jari kaki sebuah sensasi taktil yang menegaskan bahwa Anda telah tiba di salah satu sudut paling murni di Indonesia.

Antara Mitos, Nisan, dan Tradisi Bajau

Jika berjalan menjauh dari bibir pantai dan masuk ke area rimbun di bawah naungan janur kelapa, suasana seketika berubah. Hawa tropis yang menyengat berganti menjadi kesejukan yang sedikit mistis. Di sana, di antara akar-akar pohon, terdapat tumpukan batu karang dan nisan-nisan kayu maupun batu yang telah berlumut.

Bagi suku Bajau sang “Gipsi Laut” yang menghuni pesisir Kalimantan, Manimbora bukan sekadar destinasi tamasya. Pulau ini adalah tanah suci, sebuah pemakaman alam di tengah laut. Memakamkan jenazah di pulau tak berpenghuni adalah tradisi lama yang melambangkan kebebasan jiwa untuk kembali ke laut lepas.

Keberadaan makam-makam ini menciptakan dualitas atmosfer yang luar biasa. Di pinggir pantai, akan melihat wisatawan berswafoto dengan tawa riang di atas gosong pasir yang memanjang. Namun, hanya beberapa meter di belakang mereka, keheningan makam tua yang penandanya telah lapuk menjaga pulau itu tetap sakral.

Nisan-nisan ini pula yang secara tidak langsung menjadi “penjaga” Manimbora; rasa hormat terhadap leluhur membuat pulau ini tetap terjaga dari pembangunan liar atau tangan-tangan jahil yang ingin merusak keasrian alamnya.

Gosong Pasir

Daya tarik utama Manimbora muncul saat air laut mulai surut. Sebuah fenomena alam membentuk sandbank atau gosong pasir yang memanjang ratusan meter ke arah laut, menciptakan jalur putih yang melengkung indah, seperti Bintang berekor atau komet.

Berjalan di atas gosong pasir ini saat sisa-sisa air laut setinggi mata kaki masih menggenang adalah pengalaman spiritual tersendiri. Permukaan air yang tenang memantulkan awan-awan yang di langit, membuat pelancong merasa seolah-olah sedang berdiri di atas cermin raksasa yang tak berujung.

Panorama alam itulah yang menjadi kemewahan Manimbora. Bukan pada fasilitas bintang lima, melainkan pada bahasa alam berupa deru angin, dan suara deburan ombak yang pecah tampak di kejauhan.

Ekosistem yang ­Menantang Zaman

Meski tampak tangguh, Manimbora sebenarnya adalah ekosistem yang rapuh. Sebagai pulau karang yang rendah, ia berada di garis depan dalam menghadapi ancaman kenaikan permukaan air laut dan abrasi.

Setiap badai besar yang datang membawa tantangan bagi tegakan pohon kelapa yang menjadi ikon pulau ­tersebut.

Selain itu, masalah sampah kiriman (marine debris) yang terbawa arus lintas samudra seringkali terdampar di pantai indahnya. Hal ini menjadi pengingat pahit bahwa seberapa jauh pun sebuah surga tersembunyi, ia tidak benar-benar terlepas dari dampak aktivitas manusia di belahan dunia lain.

Menjemput Senja

Umumnya wisatawan datang setelah matahari tergelincir ke arah barat. Memang waktu terbaik untuk benar-benar “merasakan” Manimbora adalah saat sore hari, ketika sebagian besar kapal wisata mulai kembali ke Derawan atau Maratua.

Saat matahari mulai turun, cahaya keemasan akan menyapu batang-batang pohon kelapa, menciptakan bayangan panjang di atas pasir yang mulai dingin.

Pada momen ini, julukan “Pulau Spongebob” terasa terlalu dangkal. Manimbora adalah lebih dari sekadar referensi budaya populer. Ia adalah monumen ketenangan, sebuah titik di mana manusia bisa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk ­menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan alam ­raya.

Pulau ini adalah bukti bahwa keindahan tidak butuh ruang luas untuk bersinar. Manimbora adalah simfoni kesunyian yang akan terus bergema dalam ingatan siapa pun yang pernah mencicipi pasir putihnya dan bersandar di bawah lindungan pohon kelapanya. hay

  • Manimbora

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.