- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Ancam akan Ambil Ali...
Trump Ancam akan Ambil Alih Kuba yang Terguncang Akibat Embargo Minyak
Rabu, 18 Mar 2026, 00:00 WIBWASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat (AS)Â Donald Trump pada Senin (16/3), menyatakan tekadnya untuk âmengambilâ Kuba ketika negara pulau komunis itu dilanda pemadaman listrik total akibat embargo minyak yang diberlakukan Washington.
Setelah hampir tujuh dekade menantang AS, otoritas komunis di Havana kini berada di bawah tekanan besar dari pemerintahan Trump yang berambisi mencetak sejarah.
âAnda tahu, sepanjang hidup saya, saya mendengar tentang AS dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?â kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
âSaya percaya saya akan⦠memiliki kehormatan untuk mengambil Kuba,â ujarnya.
âApakah saya membebaskannya, mengambilnya â saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan terhadapnya, kalau jujur. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini.â
Pernyataan tersebut menjadi salah satu ancaman paling eksplisit dari Trump, muncul di tengah krisis besar ketika pulau Karibia berpenduduk sekitar 9,6 juta jiwa itu kembali dilanda pemadaman listrik.
Pemadaman tersebut terjadi akibat âpenghentian total jaringan listrik nasional,â menurut Union Nacional Electrica de Cuba (UNE), yang juga menyebut upaya pemulihan listrik sedang dilakukan.
Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua kini dalam kondisi buruk, dengan pemadaman hingga 20 jam per hari menjadi hal biasa di beberapa wilayah.
Sejak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro dari Venezuela pada 3 Januari, ekonomi Kuba semakin terpukul karena Trump mempertahankan blokade minyak secara de facto.
Tidak ada impor minyak ke pulau tersebut sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor listrik dan memaksa maskapai mengurangi penerbanganâpukulan besar bagi sektor pariwisata.
Dalam upaya meredakan tekanan ekonomi dan memenuhi tuntutan AS, pejabat ekonomi senior Kuba mengumumkan bahwa warga Kuba di luar negeri kini diizinkan untuk berinvestasi dan memiliki bisnis di dalam negeri.
âKuba terbuka untuk memiliki hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS dan juga dengan warga Kuba yang tinggal di AS serta keturunannya,â kata Menteri Perdagangan Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Oscar Perez-Oliva kepada NBC News.
Sinyal Lengser
Laporan The New York Times menyebut pejabat pemerintahan Trump memberi sinyal bahwa AS menginginkan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel lengser dari kekuasaan.
Pemadaman listrik, serta kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya, memicu ketidakpuasan masyarakat.
Dalam insiden kekerasan yang jarang terjadi, demonstran merusak kantor Partai Komunis Kuba di tingkat provinsi akhir pekan lalu.
Aksi tersebut merupakan bagian dari tren protes baru, di mana warga memukul panci di malam hari sambil meneriakkan âLibertadâ atau kebebasan.
Sebanyak 14 orang ditangkap setelah penyerangan di Moron, sebuah kota berpenduduk sekitar 70.000 orang di timur Havana.
- Kebijakan AS
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Trump akan Melarang Perusahaan Pertahanan AS Terbitkan Dividen dan "Buy Back"
-
Ekonom Ingatkan: Perluasan Peran Bank di Pasar Modal Tak Boleh Gelap
-
Usulan untuk Meeningkatan Status Lima Cagar Budaya di Sumut
-
Pemkot Surabaya Terbitkan Surat Edaran Kewaspadaan Super Flu, Warga Diminta Tenang Namun Waspada
-
Gubernur: Pemprov Sumut Gratiskan Pendidikan di Nias Mulai 2026
-
AS Bentuk Blok Dagang Mineral Kritis, Dorong Aliansi Global untuk Lepaskan Ketergantungan dari Dominasi China
-
Liga Champions: Guardiola Minta Manchester City Fokus Kalahkan Galatasaray
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.