AS Tuduh Kuba Menyusup ke Pemerintahan, Ketegangan Washington-Havana Kembali Memanas

Selasa, 21 Jul 2026, 06:30 WIB

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) menuduh intelijen Kuba telah menyusup hingga ke tingkat tertinggi pemerintahan di Washington, di tengah upaya Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut sekaligus menghidupkan kembali retorika antikomunis di dalam negeri.

Departemen Luar Negeri AS pada Minggu (20/7) merilis sebuah laporan yang menuduh Kuba berhasil menempatkan agen intelijennya di lingkungan pemerintahan AS. Meski tidak memuat banyak informasi baru, laporan tersebut dinilai semakin meningkatkan tekanan Washington terhadap Havana.

Ket. Foto: Tuduhan itu memang memperburuk hubungan Amerika Serikat dan Kuba, namun praktik spionase antara kedua negara bukanlah hal baru dan telah berlangsung sejak lama. — Sumber: AFP

Langkah itu dilakukan di tengah kebijakan pemerintahan Trump yang kembali menerapkan sanksi baru terhadap Kuba, termasuk embargo minyak secara efektif serta dakwaan terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro.

Laporan tersebut juga muncul ketika Trump kembali menggaungkan retorika ala Perang Dingin dengan menggambarkan sejumlah tokoh politik berhaluan kiri di Amerika Serikat sebagai ancaman komunis yang harus disingkirkan "seperti kanker". Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilu paruh waktu pada akhir tahun ini.

Dalam laporannya, Departemen Luar Negeri AS menuduh Kuba telah "menyusup ke tingkat tertinggi pemerintahan Amerika Serikat, merekrut dan membina beberapa generasi aktivis Amerika, serta mendukung gelombang terorisme sayap kiri yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah AS."

Meski tuduhan tersebut memperburuk hubungan kedua negara, aktivitas spionase antara Amerika Serikat dan Kuba telah berlangsung selama beberapa dekade.

Sejak era Perang Dingin, Amerika Serikat beberapa kali menangkap agen intelijen Kuba. Di antaranya kelompok "Cuban Five" yang divonis karena menyusup ke organisasi masyarakat sipil di Florida pada 1990-an, serta Ana Montes yang terbukti memata-matai AS saat menjabat posisi senior di Defense Intelligence Agency (DIA).

Dalam kasus yang lebih baru, analis intelijen Departemen Luar Negeri AS Walter Kendall Myers dan mantan Duta Besar AS untuk Bolivia Victor Manuel Rocha juga mengaku bersalah dalam perkara terpisah karena menjadi mata-mata bagi Kuba.

Di sisi lain, hubungan kedua negara juga diwarnai operasi rahasia Amerika Serikat terhadap Kuba. Mantan Kepala Intelijen Kuba Fabian Escalante pernah memperkirakan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) bersama kelompok pengasingan Kuba berupaya membunuh pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro lebih dari 600 kali.

Tingkatkan Tekanan

Dalam laporan yang dirilis pada 20 Juli, Departemen Luar Negeri AS juga menuduh Kuba menjalin hubungan dengan berbagai kelompok sayap kiri di Amerika Serikat maupun negara lain untuk menumbuhkan sentimen anti-Amerika Serikat dan anti-Barat.

Pemerintah AS mengklaim Kuba telah memengaruhi sejumlah gerakan ekstremis berpengaruh di Amerika Serikat dengan tujuan "membuat Amerika melawan dirinya sendiri". Namun, laporan tersebut tidak menyertakan bukti baru yang mendukung tuduhan tersebut.

Laporan itu menjadi babak terbaru memburuknya hubungan Washington dan Havana.

Pada 2015, Presiden Barack Obama sempat membuka jalan normalisasi hubungan diplomatik dengan Kuba setelah lebih dari setengah abad permusuhan. Namun, kebijakan tersebut dibalik oleh Donald Trump pada 2017 melalui pendekatan yang lebih keras.

Setelah kembali menjabat sebagai presiden pada 2025, Trump langsung memasukkan kembali Kuba ke dalam daftar negara sponsor terorisme pada hari pertama masa jabatannya.

Pada tahun yang sama, militer Amerika Serikat menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang selama bertahun-tahun menjadi sekutu utama Kuba dan memasok energi bersubsidi ke negara tersebut.

Sejak itu, Washington juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut secara efektif menciptakan embargo energi yang berkontribusi terhadap terjadinya sejumlah pemadaman listrik berskala besar di Kuba.

Trump juga beberapa kali mengisyaratkan bahwa pemerintahan Kuba dapat menjadi target berikutnya setelah Venezuela. Pada Juni lalu, ia bahkan menyatakan Washington akan "mengambil alih" pulau Karibia yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Florida itu "hampir seketika."

  • Kebijakan AS

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.