Ketergantungan Utang Asing Jadi Bom Waktu Stabilitas Ekonomi

Rabu, 18 Mar 2026, 00:15 WIB

JAKARTA - Kebergantungan terhadap utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan membuat stabilitas keuangan domestik sangat sensitif terhadap gejolak eksternal. Perubahan sentimen global dapat secara cepat meningkatkan biaya pembiayaan dan menekan nilai tukar rupiah.

Kondisi ini mencerminkan belum kuatnya fondasi pembiayaan domestik. Upaya menarik utang dari luar negeri memang memberi ruang fiskal jangka pendek, tetapi tanpa penguatan sumber pendanaan internal, strategi ini justru memperbesar eksposur terhadap volatilitas global. Karenanya, dorongan untuk meningkatkan efisiensi belanja dan memperdalam pasar keuangan domestik menjadi krusial, bukan sekadar opsi, melainkan prasyarat untuk mengurangi ketergantungan eksternal.

Ket. Foto: JAKARTA - Kebergantungan terhadap utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan membuat stabilitas keuangan domestik sangat sensitif terhadap gejolak eksternal. — Sumber: istimewa

Dengan begitu, keberlanjutan fiskal tidak bisa terus bergantung pada akses terhadap utang, melainkan pada kapasitas negara membangun kemandirian pembiayaan. Tanpa pergeseran strategi ini, stabilitas ekonomi akan tetap rapuh dan rentan terseret dinamika pasar global.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf menilai kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada awal tahun ini perlu dicermati secara lebih kritis, terutama karena pertumbuhannya didorong oleh peningkatan utang pemerintah. Maruf memperingatkan ketergantungan pada aliran modal asing, termasuk melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional, membuat Indonesia rentan terhadap dinamika global.

Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia, perubahan sentimen investor dapat berdampak langsung pada biaya pembiayaan dan stabilitas nilai tukar. “Kita harus waspada terhadap risiko sudden reversal. Ketika kepercayaan investor terganggu, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi bisa meningkat,” ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (17/3).

Karena itu, dia menekankan pentingnya strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri, antara lain dengan meningkatkan efisiensi belanja negara dan mendorong pendalaman pasar keuangan domestik. “Kunci keberlanjutan fiskal bukan hanya pada kemampuan menarik utang, tetapi pada kemampuan negara membiayai dirinya sendiri secara lebih mandiri,” tutur Maruf.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 mencapai 434,7 miliar dollar AS atau sekitar 7.389,9 triliun rupiah (kurs 17.000 rupiah per dollar AS) dengan pertumbuhan 1,7 persen (yoy), yang terutama didorong oleh peningkatan ULN sektor publik. ULN pemerintah tercatat 216,3 miliar dollar AS atau tumbuh 5,6 persen (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5 persen (yoy). Peningkatan ini dipicu oleh penarikan pinjaman luar negeri dan masuknya modal asing ke SBN internasional di tengah masih terjaganya kepercayaan investor.

Batasi Kemandirian

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai peningkatan utang luar negeri berpotensi mempersempit ruang fiskal karena beban pokok dan bunga yang membengkak, sehingga mengurangi alokasi anggaran untuk sektor publik seperti pendidikan dan kesehatan. Selain itu, risiko debt trap (jebakan utang) dan debt overhang (beban utang besar) mengintai, di mana utang baru digunakan untuk menutup kewajiban lama.

Kebergantungan pada pembiayaan asing juga membatasi kemandirian kebijakan ekonomi, sementara dominasi utang dalam dolar AS meningkatkan risiko nilai tukar saat rupiah melemah. “Dalam jangka panjang, akumulasi utang yang berlebihan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi karena fokus beralih pada pembayaran kewajiban dibanding ekspansi produktif,” ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (17/3).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.