Pemerintah Didorong Perluas Varietas Padi Tahan Kekeringan
📅 Senin, 16 Mar 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiDukungan riset, distribusi benih, serta penerapan teknologi pertanian presisi perlu diperkuat agar berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional.
JAKARTA – Pemerintah didorong memperluas pengembangan dan pemanfaatan varietas padi tahan kekeringan sebagai langkah strategis menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim.
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mengembangkan berbagai varietas padi unggul yang adaptif terhadap kondisi kekeringan guna menjaga stabilitas produksi pangan di tengah perubahan iklim.
Kepala BRMP Kementan Fadjry Djufry mengatakan varietas tersebut dirancang agar tetap mampu berproduksi meskipun dalam kondisi ketersediaan air terbatas serta memiliki umur panen yang relatif lebih singkat.
Ia menjelaskan sejumlah varietas padi tahan cekaman kekeringan yang telah dikembangkan antara lain Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan,” kata Fadjry di Jakarta, Minggu (15/3).
Menurutnya, pemanfaatan varietas adaptif tersebut menjadi bagian penting dari strategi teknologi untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi nasional di tengah dinamika perubahan iklim.
“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan, sehingga produksi padi nasional tetap terjaga dan ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kementan melalui BRMP juga terus mendorong penerapan inovasi teknologi dan metode budidaya yang tepat di tingkat petani guna meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Langkah tersebut dinilai penting seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami awal musim kemarau lebih cepat. Wilayah yang diperkirakan terdampak antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
Lebih Adaptif
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN Esa Prakasa menekankan pentingnya penguatan sistem manajemen dan pemantauan fenologi padi guna menjaga stabilitas produksi di tengah perubahan penggunaan lahan serta variabilitas iklim.
Ia juga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung sistem pertanian presisi serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Integrasi data multidimensi dan teknologi berbasis AI federated learning membuka peluang untuk membangun sistem pertanian yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis data,” kata Esa dalam diskusi daring di Jakarta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!