Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kasus Campak Meningkat, IDAI Serukan Imunisasi dan Tindakan Pencegahan

📅 Selasa, 10 Mar 2026, 22:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kasus Campak Meningkat, IDAI Serukan Imunisasi dan Tindakan Pencegahan Doc: Antara

Jakarta - Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan terkait telah terjadi peningkatan kasus campak yang signifikan hingga minggu ke-7 tahun 2026, yakni tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian.

Sementara pada tahun 2025, terdapat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. IDAI menyerukan kepada seluruh orangtua, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk bergerak bersama dalam upaya kejar imunisasi.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi." ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Piprim menegaskan bahwa situasi darurat ini memerlukan langkah luar biasa dari seluruh pemangku kepentingan. Secara global, Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, di bawah Yaman dan di atas India berdasarkan data WHO yang dirilis CDC per Februari 2026.

IDAI merekomendasikan enam langkah strategis yang menekankan tiga titik fokus untuk mengatasi masalah campak. Pertama, kejar imunisasi campak rubela bagi anak berusia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun yang belum imunisasi.

Kedua, tingkatkan surveilans penyakit campak dan rubella. Cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua (MR2) saat ini hanya mencapai 82,3 persen pada tahun 2024, jauh di bawah target nasional 95 persen, sehingga kekebalan kelompok (herd immunity) belum terbentuk optimal. Ketiga, perkuat kapasitas laboratorium diagnostik campak dan rubella.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) menjelaskan pentingnya upaya mengejar ketertinggalan imunisasi pascapandemi.

"Pandemi COVID-19 telah menyebabkan disrupti layanan imunisasi rutin yang sangat signifikan. Banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya, dan ini menciptakan kantong-kantong kerentanan di berbagai daerah. Yang perlu dipahami bahwa imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah." imbuhnya.

Sebaiknya Anda baca juga:

Hartono mengatakan, vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat dan mendapatkan izin edar dari BPOM.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anak untuk imunisasi. Selain imunisasi lengkap, IDAI juga menekankan pentingnya tata laksana dan pengendalian infeksi.

"Dalam menangani campak, tata laksana bersifat suportif dan simptomatik karena belum ada antivirus spesifik. Namun ada satu intervensi yang sangat penting dan terbukti menurunkan angka kematian hingga 50 persen, yaitu pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO." kata Hartono.

Selain itu, isolasi pasien sangat penting untuk mencegah penularan. Pasien campak menularkan virus sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul. Di rumah sakit, pasien harus dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik, dan petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

Imunisasi sangat penting, karena menurut IDAI, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian.

IDAI juga menginstruksikan seluruh dokter anak untuk meningkatkan surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) terutama campak dan rubella dengan melaporkan setiap kasus ke dinas kesehatan setempat melalui sistem measles-case based surveillance (surveilans campak berbasis kasus), pendekatan sistematis untuk memantau campak dengan mencatat, menginvestigasi, dan mengambil sampel laboratorium pada setiap kasus individu yang diduga (suspek) campak.

“Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kita memiliki alat pencegahan yang aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan,” kata dr Piprim.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.