Industri Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Fokus Garap Pasar Domestik Imbas Geopolitik Timur Tengah

Kamis, 05 Mar 2026, 03:00 WIB

Yogyakarta - Pelaku industri pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memaksimalkan pasar domestik untuk mengantisipasi dampak kondisi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) terhadap pergerakan wisatawan mancanegara.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardiyanto mengatakan selain pasar domestik, pelaku industri juga masih melihat potensi wisatawan dari negara-negara Asia.

Ket. Foto: Salah satu tempat rekreasi/objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Kabupaten Bantul, beberapa waktu lalu. — Sumber: Antara

"Yang jelas realistis, pasar domestik yang bisa kita gerakkan, kemudian pasar di Asia yang masih bisa kita gerakkan juga," ujar dia saat dihubungi di Yogyakarta, Rabu (4/3).

Ia mengatakan pasar Asia yang dinilai potensial antara lain berasal dari Singapura dan Malaysia yang memiliki penerbangan langsung ke Yogyakarta, serta negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Thailand dan Filipina.

"India itu juga cukup memiliki market besar yang sebenarnya bisa kita monetisasi untuk bisa sampai ke sini, karena budaya kita juga bisa menjadi daya tarik buat mereka," ujar dia.

Menurut dia, eskalasi situasi di Timur Tengah berpotensi memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara, termasuk dari negara-negara Eropa karena sejumlah bandara di kawasan tersebut menjadi hub penerbangan internasional menuju Asia, termasuk Indonesia.

"Wisatawan Timur Tengah sendiri memang tidak terlalu besar untuk ke Yogya. Cuma karena Timur Tengah menjadi jalur, rute yang mereka lewati untuk sampai ke sini, itu yang menjadi permasalahan," kata dia.

Selain itu, ia menilai kondisi tersebut juga berpeluang memengaruhi biaya perjalanan wisata jika terjadi gangguan pada jalur penerbangan di kawasan itu.

"Harga tiket pesawat pasti naik. Artinya, beban dari biaya perjalanan akan menjadi naik pasti," ujar dia.

Bobby menambahkan pelaku industri pariwisata di DIY selama Ramadhan ini juga menghadapi tekanan karena aktivitas wisata melambat sementara biaya operasional tetap berjalan.

Untuk menjaga tingkat hunian selama Ramadhan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menawarkan berbagai promo dan paket khusus, termasuk penurunan tarif kamar.

"Kami juga melakukan efisiensi operasional sambil bersiap menyambut periode libur Lebaran yang biasanya menjadi masa ramai kunjungan," kata Wakil Ketua PHRI DIY Bidang Promosi dan Event Muhtar Habibi.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.