Bapanas Tegaskan Cadangan Pangan Tetap Kuat Meski Geopolitik Memanas
Rabu, 04 Mar 2026, 04:45 WIBJAKARTA â Di tengah gejolak geopolitik yang kian dinamis, jaminan ketersediaan pangan strategis menjadi fondasi utama stabilitas nasional.
Konflik antarnegara, gangguan jalur logistik, hingga kebijakan proteksionisme dapat secara cepat mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga di pasar domestik.
Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga menyangkut cadangan yang memadai, distribusi yang lancar, serta diversifikasi sumber pasok.
Negara yang memiliki sistem pangan kuat akan lebih mampu meredam gejolak eksternal tanpa membebani daya beli masyarakat secara berlebihan.
Karena itu, memastikan ketersediaan komoditas strategis seperti beras, gula, dan protein hewani menjadi langkah antisipatif yang krusial.
Di tengah ketidakpastian global, pangan adalah aspek yang tak boleh dibiarkan bergantung pada situasi di luar kendali.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan proyeksi ketersediaan pangan hingga usai Idul Fitri 2026 tetap dalam kondisi aman, meski di tengah dinamika dan gejolak geopolitik global utamanya di Timur Tengah.
"Ketahanan pangan Indonesia dipastikan tetap aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat," kata Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy dalam Rapat Koordinasi Kesiapan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah sebagaimana keterangannya di Jakarta, Selasa (3/3).
Dia menyampaikan produksi pangan pokok strategis yang bersumber dari dalam negeri masih kuat menopang ketersediaan stok nasional, termasuk dalam memasok kebutuhan masyarakat selama momentum Ramadhan hingga Lebaran 2026.
Bapanas mencatat sedikitnya sembilan komoditas pangan pokok strategis tidak memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Bahkan sembilan komoditas telah mencapai swasembada pangan.
Adapun komoditas pangan yang telah swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
"Perlu disampaikan Neraca Pangan dan Proyeksi Produksi/Impor sampai dengan akhir April 2026, Indonesia masih terdapat surplus. Jadi posisi Neraca Pangan sampai dengan akhir April atau setelah Lebaran nanti diprediksi aman," jelas Sarwo.
Berdasarkan proyeksi tersebut, ketersediaan beras nasional hingga akhir April 2026 diperkirakan mencatat surplus 17,2 juta ton.
Angka itu berasal dari stok awal tahun yang ditambah produksi Januari sampai April yang menjadi sebesar 27,5 juta ton, kemudian dikurangi kebutuhan konsumsi hingga April sebesar 10,3 juta ton.
Komoditas jagung juga diproyeksikan surplus 4,8 juta ton, yang dihitung dari stok awal tahun ditambah produksi 10,7 juta ton dan dikurangi kebutuhan konsumsi sampai April sebesar 5,8 juta ton.
Sementara itu, minyak goreng secara nasional mencatatkan surplus 3,5 juta ton dari total 4,4 juta ton stok awal tahun dan produksi, setelah dikurangi konsumsi dalam negeri sebesar 914 ribu ton.
"Beras sampai dengan akhir April diperkirakan surplus besar 17 juta ton. Kemudian gula konsumsi 595 ribu ton. Cabai besar 74 ribu ton. Cabai rawit 105 ribu ton. Jagung 4,8 juta ton. Minyak goreng 3,5 juta ton. Daging ayam 727 ribu ton. Telur ayam 349 ribu ton. Bawang merah 57 ribu ton," jelas Sarwo.
Lebih lanjut dia mengatakan keberpihakan pemerintah terhadap produsen pangan dalam negeri juga tercermin dari penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog.
Stok CBP saat ini sepenuhnya merupakan hasil serapan produksi dalam negeri. Penugasan penyerapan setara beras telah dijalankan Bulog secara masif sejak awal tahun 2026.
Hingga minggu keempat Februari 2026, realisasi serapan setara beras dari produksi dalam negeri telah melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya. Eskalasi ini sekaligus menunjukkan tren produksi beras nasional yang terus meningkat.
Total serapan Bulog sampai minggu keempat Februari 2026 mencapai 552,4 ribu ton, meningkat signifikan sebesar 196,9 persen dibandingkan realisasi Januari dan Februari 2025 yang berada di angka 186 ribu ton.
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan saat ini pihaknya meningkatkan produksi sejumlah di luar sembilan komoditas pangan yang telah mencapai swasembada pangan.
Pemerintah kini memfokuskan langkah pada peningkatan produksi komoditas yang belum swasembada, seperti kedelai, bawang putih, dan daging sapi.
Meski demikian, Amran mengajak masyarakat untuk bersyukur karena sebagian besar pangan pokok strategis tetap dalam kondisi surplus.
Dengan kondisi tersebut, gejolak geopolitik global dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan pangan pokok strategis nasional.
Indonesia terus memperkuat kemandirian dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto, mengingat sektor pangan menyangkut hajat hidup orang banyak dan tidak boleh terganggu dalam kondisi apa pun.
- Ketersediaan Pangan
- Bapanas
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jakarta Krisis Sampah, Pemprov DKI Diminta Susun Roadmap Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir
-
Vietjet Hadirkan SkyBoss, Pengalaman Perjalanan Udara Premium dengan Standar Baru
-
Pasar Masih Cemaskan Gejolak Timur Tengah, Berikut Proyeksi IHSG di Akhir Bulan Ini
-
Prediksi Manchester United vs West Ham: Bisakah Amorim Bawa Setan Merah ke Jalur Kemenangan?
-
BI DKI Optimistis 2026 Ekonomi Jakarta Tumbuh Tinggi: Stabilitas, Inovasi, dan Penguatan Sinergi Jadi Kunci
-
IBM dan Arm Kolaborasi Kembangkan Komputasi Enterprise Dual-Arsitektur untuk Beban Kerja AI
-
HGI Gandeng PORDI Gelar “IDOT 2025”, Dorong Domino Jadi Cabang Olahraga Intelektual Strategis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.