Likuiditas Perekonomian Menggembung di Januari 2026, Momentum Tumbuh atau Ancaman Harga?
Senin, 23 Feb 2026, 15:57 WIBJAKARTA â Pertumbuhan jumlah uang beredar pada Januari 2026 tercatat meningkat dibandingkan posisi Desember 2025, menandakan adanya akselerasi likuiditas di perekonomian pada awal tahun.
Kenaikan ini dapat mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, maupun ekspansi kredit perbankan.
Secara makro, percepatan uang beredar perlu dicermati dalam dua sisi. Di satu sisi, likuiditas yang lebih longgar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya beli dan investasi.
Namun di sisi lain, jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi, tekanan inflasi berpotensi menguat. Karena itu, dinamika ini menjadi indikator penting bagi otoritas moneter dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan momentum pertumbuhan.
Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 10 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.117,8 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/2), menyampaikan bahwa pertumbuhan M2 pada Januari 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 yang sebesar 9,6 persen (yoy).
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,4 persen (yoy).
Secara lebih rinci, peningkatan M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.
Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 22,6 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen (yoy).
Sementara penyaluran kredit pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 sebesar 9,3 persen (yoy).
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances) dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
BI juga melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted pada periode yang sama yang tumbuh sebesar 14,7 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 16,8 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.193 triliun.
Sebagai informasi, M0 adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di BI akibat pemberian insentif likuiditas.
Perkembangan M0 adjusted pada Januari 2026 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 30,1 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,4 persen (yoy).
Berdasarkan faktor yang mempengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BPS Mencatat Perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional
-
Oklahoma City Thunder Kalahkan Los Angeles Lakers 123-87
-
Galeri Indonesia Tembus Art Central Hong Kong 2026, MTN Buka Jalan ke Pasar Dunia
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Dilema Filipina: Antara Kebutuhan Energi dan Sanksi Barat terhadap Russia
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
1.908 Korban Luka dan 74 Meninggal, Laka Lantas di Makassar Memprihatinkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.