Katalis Baru Masih Minim, 18 Februari 2026
Rabu, 18 Feb 2026, 08:40 WIBJAKARTA â Nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan terhadap dollar AS usai libur panjang Imlek, seiring sentiÂmen domestik yang masih cenderung negatif dan absennya katalis baru yang mampu memicu penguatan. Minimnya doÂrongan dari faktor internal membuat pergerakan rupiah renÂtan mengikuti tekanan eksternal, sekaligus mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam jangka pendek.
Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman LeÂong melihat sentimen domestik umumnya masih negatif dan pelemahan dollar juga tidak terlalu besar. Dia menamÂbahkan pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkiraÂkan masih akan cenderung berkonsolidasi. Hal ini seiring minimnya katalis baru, terutama karena mayoritas pasar Asia tengah libur dan tidak ada rilis data ekonomi penting pada perdagangan hari ini.
Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhaÂdap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (18/2), bergerak fluktuatif di kisaran 16.750 - 16.900 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdaÂgangan di Jakarta, Jumat (13/2), bergerak melemah 8 poin atau 0,05 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.836 rupiah per dollar AS. Research and Development IndoneÂsia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menilai kurs rupiah bergerak cenderung konsolidatif seiring sikap wait and see pasar menanti arah pergerakan dollar AS dan sentimen global.
âNilai tukar rupiah (bergerak) sangat terbatas dan cenÂderung konsolidatif. Pasar tampak berada dalam fase wait and see, terutama menanti arah pergerakan dollar AS dan sentimen global,â ucapnya di Jakarta.
Pelaku pasar disebut mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta rilis data ekonomi AS yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi terhadap penurunan atau penahanan suku bunga. Pergerakan yield US Treasury dan arus modal ke emerging markets dinilai juga menjadi faktor kunci.
Adapun sentimen domestik berasal dari prospek inÂflasi, stabilitas cadangan devisa, serta langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi. âSelain itu, perkembangan harga komoditas global dan sentimen terÂhadap pasar saham domestik turut mempengaruhi aliran dana asing dan arah rupiah dalam jangka pendek,â ungkap Taufan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
DLH Mimika Alokasikan Rp18 Miliar untuk Gaji Petugas Kebersihan, Total 182 Orang
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Mensos Tegaskan Rencana Penerapan WFA Tidak Ganggu Pelayanan Sosial
-
Rutin Bersih-bersih Lingkungan untuk Mendukung Gerakan Indonesia ASRI
-
Konser di ICE BSD, aespa Akui Waktu di Jakarta Selalu Terburu-Buru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.