IPB: Indonesia Negara Agraris tapi dalam Bayang-Bayang Impor
Sabtu, 14 Feb 2026, 11:07 WIBJAKARTA-Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Gusti Artama Gultom menegaskan bahwa suatu ironi, Indonesia sebagai negara agraris dengan tanah yang subur dan mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, namun masih importir bahan pangan.Â
Beberapa bahan pangan yang menjadi langganan impor yakni jagung, daging, gula dan gandum. "Hingga saat ini, Indonesia masih sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gandum, bahkan bahan baku tempe dan tahu pun Indonesia masih harus impor,"ungkapnya pada Koran Jakarta (14/2).
Di tengah narasi lumbung pangan dunia dan swasembada pangan, identitas Indonesia sebagai negara agraris menjadi pertanyaan. Negara agraris sering kali dikaitkan dengan tanah yang subur, lahan pertanian yang luas, iklim tropis dengan cahaya matahari sepanjang waktu, juga mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani. "Akan tetapi, faktor ini tidak lagi cukup untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara agraris,"ungkapnya.
Jika jati diri Indonesia tutur Dr. Gusti adalah negara agraris, semestinya identitas ini tidak hanya kisah di masa lalu saja dimana Indonesi pernah menjadi eksportir gula, sapi, bahkan mencapai swasembada pangan. Sebagai negara agraris, seharusnya dibarengi dengan penerapan teknologi pertanian yang maju, peningkatan produktivitas pertanian yang tinggi, sistem pertanian yang efisien, sumber daya petani yang mumpuni, dan memiliki kebijakan yang mendukung kuat pertanian.Â
Indonesia menduduki peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Di satu sisi, Indonesia justru menduduki peringkat ke-63 dari 113 negara untuk Global Food Security Index (GFSI). Sementara negara tetangga yakni Malaysia dan Singapore berada pada peringkat ke-41 dan ke-28. Peringkat GFSI ini menggambarkan sejauh mana keterjangkauan, ketersediaan, kualitas dan keamanan pangan, serta sumber daya alam dan ketahanan pangan.Â
Dalam ilmu ekonomi, memang impor tidaklah selalu salah. Jepang, meski sudah memiliki teknologi pertanian yang sudah maju, juga masih mengimpor sebagian kebutuhan bahan pangannya. Namun, kunci utama yang membedakan adalah struktur eknomi dan daya tawar negara tersebut dalam perdagangan global.Â
Negara kuat seperti Jepang, mengimpor merupakan pilihan yang rasional, artinya ada faktor lain yang menyebabkan impor menjadi lebih rasional dibandingkan harus memproduksi sendiri. Faktor ini dapat disebabkan keterbatasan lahan atau biaya produksi di negaranya lebih tingi akibat upah yang tinggi pula.
Ketahanan vs Kedaulatan
Ketahanan pangan berbicara tentang ketersediaan dan akses, termasuk melalui impor. Sementara kedaulatan pangan menekankan kemampuan produksi domestik dan kontrol atas sistem pangan. Indonesia tampaknya terlalu nyaman dengan pendekatan ketahanan berbasis impor, tetapi belum cukup berani membangun kedaulatan berbasis produktivitas dan teknologi.Impor bukanlah solusi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
 Kebergantungan impor sangat rentan terhadap gejolak harga global, fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok global bahkan kondisi geopolitik internasional. Memang dalam jangka pendek, impor memang menjadi cara cepat untuk memenuhi ketersediaan bahan pangan.Â
Kebergantungan impor tidak hanya akan melemahkan posisi petani selaku produsen uatma. Di tingkat petani, harga komoditas akan semakin fluktatif dan cenderung akan merugikan petani, terutama saat musim panen. Kondisi ini membuat petani dihadapkan pada ketidakpastian pasar. Akan tetapi, juga berdampak terhadap seluruh rantai subsitem agribisnis pertanian mulai dari industri hulu (industri benih, pupuk, peralatan pertanian), usaha tani, industri hilir (pengolahan), dan distribusi serta rantai pemasaran juga akan terganggu.Â
Dengan melemahnya kinerja seluruh rantai subsitem agribisnis ini, dampaknya tidak saja hanya kerugian petani, namun kerugian ekonomi nasional yang lebih besar termasuk hilangnya nilai tambah dan kehilangan lapangan pekerjaan.Â
Sistem pertanian saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi konvensional. Pertanian saat ini telah dihadapkan pada tantangan perubahan iklim, peningkatan suhu, pergeseran musim dan kekeringan. Dibutuhkan pengembangan varietas benih yang bisa menjawab semua tantangan ini serta produktivitas yang tinggi. Anggaran penelitian terkait pertanian harus ditingkatkan, melakukan modernisasi pertanian dan manajemen air khususnya pada saat musim kemarau. Regenerasi petani juga harus dilakukan dengan menghadirkan petani yang âmelekâ teknologi dan adaptif terhadap perubahan zaman.Â
Pengurangan impor secara bertahap, tidak dapat dicapai hanya dengan kebijakan pembatasan perdagangan semata. Indonesia harus memiliki rencana jangka panjang untuk pembanguan pertanian. Kunci utamanya terletak pada penguatan usaha tani dan percepatan implementasi teknologi. Peningkatan produktivitas melalui benih/bibit unggul, mekanisasi, modernisasi irigasi, dan pemanfaatan digitalisasi dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pertanian.Â
Pemerintah RI harus mengevaluasi arah pembangunan sektor pertanian nasional jika ingin benar-benar mencapai kemandirian pangan. Perlunya evaluasi itu dengan melihat pendekatan yang dilakukan Tiongkok di mana Pemerintahnya lebih fokus pada penguatan teknologi dan peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kegiatan impor beras ke Indonesia masih tinggi hingga Mei 2024. Menurut data BPS, pada periode Januari-Mei 2024 impor beras ke Indonesia meningkat 165,27%. "Impor pangan jika dirinci pertama beras naik 165,27% dibandingkan Januari-Mei 2023," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, Rabu, (19/6/2024).
Berdasarkan data BPS, impor beras ke Indonesia pada Januari-Mei 2023 masih mencapai 854 ribu ton. Sementara pada periode Januari-Mei 2024 jumlah impor mencapai 2,2 juta ton.
Teknologi Agraria
Anggota Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Tani Indonesia DIY, Pranasik Faihaan, dari Yogyakarta, Kamis (12/2) mengatakan Tiongkok mengembangkan teknologi agraria untuk menaikkan produktivitas sehingga dapat mengurangi kebutuhan lahan pertanian menuju kemandirian pangan.
Tanpa tekad penuh dan dukungan nyata melalui intensifikasi serta implementasi teknologi agraria dalam pembangunan pangan nasional, Indonesia akan berjalan di tempat atau bahkan menyusut dalam program kemandirian pangan nasional. Sedangkan Indonesia berkali-kali membuka lahan baru melalui program food estate, tetapi lahan pertanian dan perkebunan yang ada tidak dipertahankan untuk produktivitas yang lebih tinggi.
Hal itu yang menyebabkan kebergantungan Indonesia pada impor pangan masih cukup tinggi. Padahal, tidak ada satu pun negara adidaya dunia yang tergantung pada impor pangan di atas 20 persen dari total kebutuhan pangan mereka. Sedangkan Indonesia, berdasarkan data perdagangan tahun 2024-2025, Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 60-70 persen lebih impor Indonesia ditujukan untuk bahan baku/penolong yang mendukung industri dalam negeri.
Dengan melihat kondisi tersebut, maka tanpa tekad penuh dan dukungan nyata melalui intensifikasi serta implementasi teknologi agraria dalam pembangunan pangan nasional, Indonesia akan berjalan di tempat atau bahkan menyusut dalam program kemandirian pangan nasional.
âPertanian dan perkebunan yang sudah menghasilkan pangan harus dijaga dan didukung total untuk kelangsungan hidupnya dan tidak sebaliknya dibiarkan gagal atau malah dibuat sulit untuk keberlangsungan hidupnya,â ujar Pranasik.
Tiongkok jelas Pranasik mengembangkan teknologi penelitian untuk varietas bioteknologi jagung yang memiliki kadar protein lebih tinggi sehingga dapat mengurangi kebergantungan pada kedelai impor untuk pakan ternak. Tanpa tekad negara untuk mencintai dan mendukung total pertanian dan perkebunan pangan nasional yang sudah ada, sulit mengharapkan pengembangan baru yang belum menghasilkan pangan.
Ia menambahkan, teknologi agraria hanya bisa maju di dalam negeri jika negara secara nyata memberikan jaminan perlindungan hukum dan kebijakan positif terhadap kelangsungan pertanian dan perkebunan pangan nasional, sehingga dapat meningkatkan investasi pada riset dan teknologi yang membutuhkan modal serta waktu sangat besar untuk bisa bersaing secara global.
Jika negara sebut Pranasik mencintai dan mendukung total pertanian dan perkebunan pangan nasional, maka strategi utama dan pertama dari food security bisa tercapai, di mana hal itu merupakan tingkat kepentingan teratas bagi setiap negara adidaya yang berdaulat.
Kalau melihat komposisi demografi, sekitar 43 persen penduduk Indonesia hidup di perdesaan dengan lebih dari 83.000 desa. Dibanding Amerika Serikat (AS) hanya memiliki sekitar 20 persen penduduk di pedesaan namun menjadi salah satu eksportir pangan terbesar dunia. Tiongkok, dengan sekitar 34 persen penduduk desa, hanya membutuhkan 23 persen impor pangan.
âJadi jangan yang sudah ada tidak dipelihara atau malah dimatikan, sedangkan selalu berharap dan mencoba food estate baru berulang-ulang kali,â kata Pranasik.
- Impor Pangan Meningkat
- Swasembada Pangan
- Institut Pertanian Bogor (IPB)
- ketahanan pangan nasional
- Kemandirian Pangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Antisipasi Lonjakan Harga Minyak, AS-Tiongkok Koordinasi Keamanan Jalur Energi Global
-
PKK Barito Utara dan Dinas KPP Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Manfaatkan Lahan Pekarangan
-
APBD 2026 Tetap Kokoh Meski Dana Bagi Hasil Dipotong
-
Program Mudik Gratis MyPertamina 2026, Pertamina Lepas 125 Pemudik di Makassar
-
Perkuat Ketahanan Pangan dan Air Indonesia Timur: Ini Progres Pembangunan Bendungan Manikin di Kupang
-
Dishub: Puncak Arus Balik Nagreg Diprediksi Terjadi Hari Ini
-
Pemerhati: Konflik Global Momentum Dorong Percepatan Swasembada Pangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.