Dari Limbah Jadi Energi: Biogas dan Solar Dryer House Hadir di Sukabumi

Jumat, 13 Feb 2026, 21:08 WIB

Sebagai wujud kolaborasi antara Rumah Energi dan PT Insight Investment Management dalam usaha meluaskan cakupan wilayah Desa Energi Insight, hari ini Bupati Sukabumi, Asep Japar, resmikan pemanfaatan fasilitas biogas rumah di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, serta Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Acara peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali.

Aktivitas edukasi teknologi energi terbarukan berbasis komunitas ini juga merupakan bagian dari proyek Pro Women 3 yang didukung oleh pendanaan Ford Foundation. Peresmian ini menjadi langkah nyata dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal.

Ket. Foto: Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan bahwa pendekatan teknologi tepat guna berbasis komunitas merupakan kunci keberlanjutan program. “Biogas dan Solar Dryer House" — Sumber: Yayasan Rumah Energi

Asep Japar menyampaikan bahwa pembangunan berbasis energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga.”

Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional. Melalui pengolahan biogas, limbah organik dapat diubah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan bahwa pendekatan teknologi tepat guna berbasis komunitas merupakan kunci keberlanjutan program. “Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Pemanfaatan biogas ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG serta berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton COâ‚‚e per tahun. Selain itu, residu biogas dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat yang mendukung pertanian ramah lingkungan.

Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem hadir sebagai solusi atas persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka. Teknologi pengering berbasis energi matahari ini dirancang untuk menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan bernilai jual lebih tinggi.

Melalui peresmian biogas dan Solar Dryer House ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya. Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi, serta dapat meningkatkan perekonomian di dua desa tersebut.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.