• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pencarian Awal yang Mungki...

Pencarian Awal yang Mungkin Tak Pernah Tercapai

Kamis, 12 Feb 2026, 06:41 WIB

DI ANTARA para ilmuwan yang meneliti Big Bang, masing-masing membawa keyakinan dan modelnya sendiri. Ada yang percaya alam semesta memantul. Ada yang membayangkan kosmos tanpa batas. Ada pula yang melihat kemungkinan alam semesta cermin.

Namun Jean-Luc Lehners, fisikawan kosmologi yang lama memimpin Kelompok Kosmologi Teoretis di Institut Max Planck untuk Fisika Gravitasi, memilih bersikap hati-hati. Ia meragukan bahwa teori mana pun yang ada saat ini benar-benar akan bertahan selamanya.

Ket. Foto: Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan peta radiasi sisa (langit gelombang mikro) dari Big Bang. — Sumber: HO / ESA/Konsorsium LFI & HFI / AFP

“Saya pikir sangat tidak masuk akal bahwa pada tahun 2025 kita sudah harus memahami awal mula alam semesta,” katanya kepada Scientific American. “Mengapa bukan pada tahun 2.000.025?”

Bagi Lehners, pencarian ini bukan perlombaan cepat, melainkan pendakian panjang—dan mungkin menipu. Ia mengibaratkannya seperti mendaki gunung. Dari kejauhan, sebuah tonjolan terlihat seperti puncak. Kita mendekat dengan penuh harap, hanya untuk menyadari bahwa itu bukan puncak sejati, melainkan gundukan yang menutupi pemandangan menuju puncak berikutnya.

Dalam sains, “puncak palsu” seperti itu bisa berupa teori yang tampak menjelaskan segalanya hingga data baru membuktikan sebaliknya.

Sean Carroll, profesor filsafat alam di Universitas Johns Hopkins, juga melihat persoalan ini dengan kacamata terbuka. Menurutnya, sangat masuk akal jika memang ada sesuatu sebelum Big Bang. Namun sama masuk akalnya jika Big Bang benar-benar merupakan permulaan segalanya.

“Kita masih belum tahu terlalu banyak hal,” ujarnya. Ia bahkan skeptis apakah teknologi saat ini cukup canggih untuk memungkinkan para ilmuwan menarik kesimpulan eksperimental yang benar-benar pasti dari berbagai model kosmologi tersebut. Dengan kata lain, kita mungkin sedang mencoba menjawab pertanyaan terbesar umat manusia dengan alat yang belum sepenuhnya siap.

Namun para kosmolog tidak bekerja karena yakin misteri ini akan terpecahkan dalam hidup mereka. Lehners membayangkan dirinya sebagai bagian dari proyek lintas generasi—upaya panjang umat manusia untuk sedikit demi sedikit mendekati kebenaran, meski mungkin tak pernah benar-benar menyentuhnya.

Dahulu, manusia memprediksi keberadaan atom jauh sebelum bisa melihatnya. Lubang hitam dan materi gelap pun lama berada di luar jangkauan pengamatan langsung, tetapi tetap menjadi objek kajian ilmiah yang sah.

“Saya pikir tolok ukur tentang apa yang dianggap sebagai sains telah bergeser,” kata Ismael. Dan pergeseran itu akan terus terjadi.

Mungkin, suatu hari nanti, batas sains akan meluas hingga menyentuh masa lalu yang bahkan mungkin bukan “masa lalu” dalam pengertian yang kita kenal sekarang.

Untuk saat ini, pertanyaan tentang awal mula tetap menjadi pengingat bahwa semakin jauh manusia melangkah dalam memahami alam semesta, semakin jelas pula betapa luasnya wilayah yang belum kita ketahui. hay

  • Peristiwa Big Bang

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.