Masa Depan Mandalika Antara Gemuruh MotoGP dan Tradisi Bau Nyale, Mungkinkan Jalan Beriringan?
Rabu, 11 Feb 2026, 19:05 WIBLOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT - Langit Pantai Seger masih gelap ketika ribuan orang mulai turun ke laut. Lampu senter menari di antara ombak kecil, suara tawa bercampur doa, dan bau asin yang khas menyambut mereka yang percaya bahwa nyale bukan sekadar cacing laut, melainkan jelmaan Putri Mandalika.
Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tradisi Bau Nyale kembali menjadi denyut nadi budaya sekaligus penggerak ekonomi.
Pada 2026, Bau Nyale tidak lagi berdiri sendiri sebagai pesta rakyat. Ia hadir dalam lanskap yang lebih luas:Â sports tourism, investasi, dan strategi keberlanjutan pariwisata NTB.
Di satu sisi ada Sirkuit Pertamina Mandalika dengan gemuruh MotoGP yang kontraknya bersama Dorna berakhir pada 2031. Di sisi lain, ada warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun, jauh sebelum aspal sirkuit dibentangkan.
Fondasi ekonomi
Bau Nyale selama ini dilaksanakan sekitar Februari hingga Maret, berpusat di Pantai Seger yang berada di dalam KEK Mandalika. Rangkaian kegiatannya tidak sebatas menangkap nyale. Ada pemilihan Puteri Mandalika, Karnaval Seribu Putri Mandalika, hingga berbagai pertunjukan seni tradisional.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menegaskan bahwa Pantai Seger harus menjadi milik masyarakat dalam mendukung penguatan budaya Bau Nyale untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.
âBau Nyale bukan hanya atraksi tahunan, tetapi identitas masyarakat Lombok Tengah. Kami ingin memastikan bahwa pengembangan KEK Mandalika tetap memberi ruang utama bagi budaya lokal. Jika tradisi ini kuat, maka ekonomi masyarakat juga akan ikut kuat,â ucapnya.
Pernyataan itu penting. Sebab, pembangunan destinasi kerap terjebak pada infrastruktur fisik dan melupakan ruh sosial-budaya yang menjadi fondasinya.
Menurut Lalu Pathul Bahri, setiap puncak Bau Nyale mampu mendongkrak okupansi hotel di Mandalika dan sekitarnya. Pelaku UMKM, mulai dari pedagang kuliner, penyewaan tikar, hingga perajin cenderamata, merasakan lonjakan pendapatan signifikan. Momentum ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal bisa menjadi penggerak ekonomi riil.
Namun, dampak ekonomi musiman saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah menjadikan Bau Nyale sebagai agenda wisata yang terkurasi, terjadwal, dan terintegrasi dengan kalender nasional, tanpa kehilangan makna kulturalnya.
Di sinilah pentingnya keseimbangan. Tradisi tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan. Ia harus tetap hidup sebagai identitas masyarakat Sasak, sekaligus diberi ruang untuk bertransformasi dalam konteks ekonomi modern.
Olahraga wisata
Sejak 2022, MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika menjadi ikon sports tourism nasional. Ajang ini digelar berturut-turut hingga 2025 dan dijadwalkan kembali pada Oktober 2026. Pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari program strategis nasional untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Eksposur global dari ajang ini tidak kecil. Jutaan pasang mata menyaksikan Mandalika melalui siaran internasional dan media digital. Namun kontrak yang berakhir pada 2031 menjadi pengingat bahwa event besar bersifat temporer. Kebergantungan berlebihan pada satu ajang berisiko menciptakan ketimpangan ketika sorotan dunia berpindah.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dalam rapat koordinasi bersama ITDC dan pemangku kepentingan pariwisata menekankan pentingnya diversifikasi agenda wisata.
âKita tidak boleh bergantung pada satu event saja. MotoGP memang memberi dampak besar, tetapi Mandalika harus hidup sepanjang tahun. Karena itu, kolaborasi antara olahraga, budaya seperti Bau Nyale, dan pemberdayaan UMKM menjadi strategi utama agar ekonomi daerah tumbuh berkelanjutan,â kata Lalu Muhammad Iqbal.
Karena itu, Bau Nyale dan berbagai side event menjadi penyangga penting. Bhayangkara Riding Day 2026 yang diikuti sekitar 3.500 bikers dari berbagai daerah, misalnya, tidak hanya menjadi ajang otomotif, tetapi juga kampanye keselamatan berkendara dan penggalangan bantuan kemanusiaan.
Model seperti ini menunjukkan integrasi antara olahraga, solidaritas sosial, dan promosi destinasi. Sports tourism tidak selalu harus berupa balap kelas dunia. Ia bisa hadir dalam bentuk komunitas, fun run, triathlon pantai, hingga festival sepeda yang menyatu dengan lanskap budaya.
Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa diversifikasi event menjadi kunci keberlanjutan. Bali tidak hanya mengandalkan satu festival, Yogyakarta memadukan budaya dan olahraga dalam berbagai ajang lari internasional. Mandalika memiliki potensi serupa dengan keunggulan pantai, bukit, dan tradisi unik seperti Bau Nyale.
Arah kebijakan
Pengembangan Mandalika memerlukan orkestrasi lintas sektor. Pemerintah Provinsi NTB, ITDC, pemerintah kabupaten, asosiasi pariwisata, hingga komunitas lokal harus berada dalam satu visi. Isu konektivitas, ketersediaan hotel, tata kelola lahan, hingga kualitas layanan menjadi pekerjaan rumah bersama.
Yang tak kalah penting adalah aspek lingkungan. Bau Nyale berlangsung di ekosistem pesisir yang rentan. Lonjakan pengunjung berpotensi meningkatkan sampah dan tekanan terhadap habitat laut. Jika tidak dikelola dengan baik, ironi bisa terjadi: tradisi yang lahir dari penghormatan terhadap alam justru merusaknya.
Pendekatan pariwisata berkelanjutan harus menjadi prinsip dasar. Edukasi kepada pengunjung, pembatasan zona tangkap, pengelolaan sampah terpadu, hingga pelibatan kelompok sadar wisata menjadi langkah konkret.
Selain itu, peningkatan kapasitas UMKM lokal menjadi kunci agar manfaat ekonomi tidak bocor keluar daerah. Pelatihan manajemen usaha, akses pembiayaan, hingga digitalisasi pemasaran dapat memperkuat daya saing pelaku lokal. Dengan begitu, pertumbuhan tidak hanya terlihat pada angka makro, tetapi terasa dalam dapur rumah tangga.
Mandalika berada di persimpangan penting. Ia memiliki sirkuit berstandar dunia, tetapi juga legenda yang mengakar kuat. Ia disorot dunia karena balap motor, namun dicintai masyarakat karena cerita Putri Mandalika.
Ketika ribuan orang kembali turun ke laut setiap tahun, mereka tidak hanya mencari nyale. Mereka merawat ingatan kolektif. Tugas kebijakan publik adalah memastikan bahwa ingatan itu tidak tergerus oleh komersialisasi berlebihan, melainkan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Masa depan Mandalika tidak semata ditentukan oleh seberapa cepat motor melaju di sirkuit, tetapi oleh seberapa dalam ia menghargai akar budayanya.
Di antara bau asin laut dan deru mesin balap, tersimpan pilihan arah pembangunan. Pilihan yang akan menentukan apakah Mandalika sekadar panggung sesaat atau rumah panjang bagi kesejahteraan masyarakatnya. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
DPD RI Minta BPK Audit Anggaran MRP Papua, Nilai Capai Rp181 Miliar per Tahun
-
Penumpang KA di Daop 9 Jember Tembus 12 Ribu Jelang Puncak Arus Balik
-
Inflasi 3,48 Persen Masuk Target, Kemendagri Soroti Harga Pangan Belum Stabil
-
Pasar Saham Panik, Menkeu Klaim Guncangan IHSG Cuma Sementara
-
Industri Hulu Migas: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Daerah
-
Indonesia Intensifkan Diplomasi Demi Keselamatan Kapal di Selat Hormuz
-
Unhas Tetapkan Daya Tampung SNPMB 2026 Sebanyak 11.623, Ini Rinciannya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.