Dorong Transisi Energi, Perlu Strategi Tepat untuk Mengembangkan Mineral Kritis

Rabu, 11 Feb 2026, 13:12 WIB

JAKARTA - Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan mineral kritis yang dapat mendukung transisi energi. Namun, pemerintah dan industri pertambangan perlu memiliki pemikiran yang sama untuk mengembangkan mineral kritis dengan strategi yang tepat.

Menurut Prof. Irwandy Arif, Chairman Indonesian Mining Institute, mineral kritis seperti kobalt, nikel, dan tembaga sangat penting dalam pengembangan teknologi energi terbarukan. "Mineral kritis harus kita jaga," katanya dalam Workshop Mining for Journalist yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Selasa (10/2).

Ket. Foto: Prof. Irwandy Arif, Chairman Indonesian Mining Institute dalam Workshop Mining for Journalist yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Selasa (10/2) — Sumber: istimewa

Prof. Irwandy menyampaikan beberapa strategi untuk mendukung transisi energi, antara lain peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan/atau pemurnian dalam negeri, pengembangan industri baterai terintegrasi, dan pembangunan fasilitas pemurnian nikel dekat tambang.

Selain itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga perlu infrastruktur yang memadai. "Antam sedang menjalankan proyek ini," kata Prof. Irwandy.

Dalam mendukung transisi energi, pemerintah dan industri pertambangan perlu mengoptimalkan clean coal technology, memanfaatkan lahan bekas tambang untuk energi terbarukan, dan mendorong penguasaan teknologi digitalisasi dan artificial intelligence.

Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan potensi mineral kritisnya untuk mendukung transisi energi dan mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca.

Manfaat pengolahan mineral untuk wilayah sekitar juga perlu menjadi perhatian, karena dapat menciptakan peningkatan pendapatan melalui pajak dan royalti, bertambahnya lapangan pekerjaan, pertumbuhan industri manufaktur terkait, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas tenaga kerja dalam negeri, dan program pengembangan masyarakat.

Prof Irwandy membeberkan masa depan mineral kritis untuk transisi energi. Dalam beberapa dekade mendatang, permintaan terhadap mineral akan berkaitan dengan transisi energi, peningkatan populasi, dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah.

“Demand mineral kritis sampai 2030 naik semua. Tapi kalau gonjang-ganjing seperti sekarang, nggak akan ada yang berani investasi. Potensi kita sebenarnya luar biasa. Pemerintah dan industri pertambangan harus memiliki pemikiran yang sama, kalau tidak maka akan sia-sia, kehilangan kesempatan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pengembangan ekosistem kendaraan listrik masih perlu infrastruktur yang memadai.

“Antam sedang menjalankan proyek ini. Tapi memang kebanyakan kendaraan listrik menggunakan baterai LFP. Di Indonesia rencananya menggunakan NMC (nikel, mangan, cobalt),” kata Prof Irwandy.

Prof Irwandy menyebutkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam transisi energi. Pertama dekarbonisasi pada operasional pertambangan menggunakan biodiesel dan elektrifikasi kendaraan. 

Kedua, optimalisasi clean coal technology dalam mendukung transisi energi. Ketiga, lemanfaatan lahan bekas tambang untuk energi terbarukan. Keempat, mendorong penguasaan teknologi digitalisasi dan artificial intelligence (AI).

Kunci Pertumbuhan

Resvani, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) dalam kesempatan yang sama menegaskan sektor mineral dan batu bara disebut milik kolektif dari seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang dikuasakan kepada negara untuk digunakan sebesar besar kemakmuran rakyat. Dengan demikian, laju deplesi sumber daya dan cadangan non renewable mineral dan batu bara harus sejalan dengan laju pertumbuhan 6 parameter sebesar-besar kemakmuran rakyat.

“Pemikiran founding fathers bahwa Mineral harus dikelola (keterlibatan maksimal sebagai pemaknaan workfsare state) oleh bangsa sendiri dengan sangat hati-hati, berdampak maksimal jangka panjang (lintas generasi) untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju (developed country), bukan hanya sebagai instrumen ekonomi jangka pendek,”ucap Resvani.

Resvani yang juga merupakan Founder-Chairman PT Tura Group Indonesia ini menyoroti potret ekonomi Indonesia di mana GDP dan GD per kapita masih jauh tertinggal dibandingkan negara negara maju di dunia (hampir 1/20 dari besaran GDP USA dan China ). Ia menyebut ekonomi Indonesia masih di drived oleh variabel konsumsi, variable investasi, belanja pemerintah, dan terlebih net ekspor masih jauh tertinggal.

Resvani memandang Indonesia sebagai resource rich country sangat berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi signifikan melalui pengembangan industri manufaktur berbasis sumber daya alam (SDA).

“Sektor Minerba (mineral dan batu bara) adalah bukan hanya sebagai instrumen penerimaan negara namun juga untuk instrumen utama pertumbuhan industri manufaktur dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi menuju negara maju,” ujarnya.

Resvani membeberkan sejumlah tantangan maupun isu terkait industri pertambangan minerba di Indonesia, antara lain soal geopolitik dan geoekonomi yang memengaruhi peningkatan demand mineral kritis strategis dan fluktuasi harga komoditas.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.