AS dan Iran Kembali Buka Pembicaraan Nuklir, Netanyahu Minta Syarat Lebih Keras ke Trump

Minggu, 08 Feb 2026, 19:20 WIB

JAKARTA - Amerika Serikat dan Iran kembali menggelar pembicaraan tidak langsung terkait program nuklir Teheran di Oman, Jumat lalu. Namun, pertemuan tersebut dinilai belum menghasilkan terobosan berarti dan justru membawa kedua pihak kembali ke titik awal.

Di tengah dinamika tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Rabu mendatang. Pertemuan itu akan membahas arah pembicaraan terbaru antara Washington dan Teheran.

Ket. Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Rabu mendatang. Pertemuan itu akan membahas arah pembicaraan terbaru antara Washington dan Teheran. — Sumber: euro news

Kantor Netanyahu menyatakan Israel menilai negosiasi nuklir tidak cukup jika hanya membahas pengayaan uranium. Israel mendorong agar pembicaraan juga mencakup pembatasan rudal balistik Iran serta penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan.

Presiden Trump menyebut pembicaraan tidak langsung di Oman sebagai pertemuan yang sangat baik. Ia juga mengatakan dialog lanjutan direncanakan berlangsung pada awal pekan depan.

Dalam perundingan tersebut, Amerika Serikat diwakili oleh utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner. Pembicaraan berlangsung secara tidak langsung dengan perantara Oman.

Meski membuka jalur diplomasi, Trump tetap menunjukkan sikap keras. Washington sebelumnya mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perang ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Dari pihak Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pengerahan militer Amerika Serikat tidak membuat negaranya gentar. Ia menyebut kekuatan Iran terletak pada kemampuan untuk menolak tekanan dari kekuatan besar.

"Mereka takut pada bom atom kami, padahal kami tidak mengejar bom atom. Kekuatan kami adalah keberanian untuk mengatakan tidak," kata Araghchi saat berbicara dalam sebuah konferensi di Teheran.

Araghchi menegaskan Iran tetap berpegang pada hak untuk memperkaya uranium, bahkan jika konflik bersenjata dipaksakan terhadap negaranya. Ia juga memastikan program rudal Iran tidak akan menjadi bagian dari meja perundingan.

Iran, kata Araghchi, masih menyimpan ketidakpercayaan mendalam terhadap Amerika Serikat setelah pengalaman pembicaraan sebelumnya. Ia memperingatkan Teheran akan menargetkan pangkalan AS di kawasan jika terjadi serangan langsung ke wilayah Iran.

Meski demikian, Araghchi menyebut pembicaraan di Oman sebagai awal yang positif. Ia menegaskan dialog akan berlanjut, meski proses membangun kepercayaan diperkirakan masih panjang.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.