Investor Wait and See, IHSG Masuk Zona Rawan Koreksi di Akhir Pekan

Jumat, 06 Feb 2026, 01:59 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko kembali terkoreksi dalam perdagangan akhir pekan ini. Pergerakan IHSG bakal dipengaruhi sikap pasar menantikan laporan cadangan devisa nasional dan memantau perkembangan data penting ekonomi di Amerika Serikat (AS).

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat investor tengah menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan meningkat seiring penerbitan global bonds sebesar 2,7 miliar dollar AS pada Januari 2026 sehingga, akan cenderung direspons moderat oleh pasar. Selain itu, dari eksternal, pasar juga menantikan rilis data JOLTs pasar tenaga kerja AS yang diperkirakan turun sehingga berpotensi menimbulkan reaksi dari bank sentral setempat atau The Fed.

Ket. Foto: Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Dhemas Reviyanto

Karenanya, Audi memproyeksikan IHSG dalam perdagangan, Jumat (6/2), bergerak mixed cenderung melemah terbatas di kisaran support 8.038 dan resistance 8.311.

Sebelumnya, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/2) sore, ditutup melemah 42,84 poin atau 0,53 persen ke posisi 8.103,88 terpengaruh oleh koreksi Bursa global akibat saham-saham sektor teknologi mengalami tekanan, di tengah sentimen positif data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,43 poin atau 0,41 persen ke posisi 829,35.

“Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen tentu bagus bagi pasar, tapi sekarang pasar terpengaruh global yang koreksi,” ujar Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee dihubungi di Jakarta.

Hans mengatakan sentimen domestik terkait sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia, sudah kembali normal, atau tidak menghadirkan sentimen negatif lanjutan. Dia menjelaskan pelemahan IHSG terpengaruh oleh koreksi Bursa saham kawasan Asia dan global, seiring investor melakukan rotasi arah investasi serta adanya tekanan pada saham-saham sektor teknologi.

“Global rotasi dan tekanan pada saham teknologi. Jadi, pasar kita terpengaruh,” ujar Hans.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan PDB Indonesia tumbuh 5,39 persen year on year (yoy) pada kuartal IV-2025 atau melampaui ekspektasi sebesar 5,01 persen (yoy) dan meningkat dari pertumbuhan 5,04 persen (yoy) pada kuartal III-2025. Pada 2025, perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen (yoy) , atau sedikit di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2 persen (yoy).

Bursa kawasan Asia dan global cenderung mengalami pelemahan seiring pelaku pasar melakukan aksi jual pada saham-saham teknologi, di tengah kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi, besarnya belanja kecerdasan buatan (AI), serta potensi gangguan terhadap model bisnis perangkat lunak tradisional

Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat yaitu dipimpin sektor sektor barang konsumen primer yang naik sebesar 1,11 persen, dan diikuti oleh sektor keuangan yang naik sebesar 0,05 persen.

Sedangkan sembilan sektor melemah yaitu sektor industri paling dalam sebesar 1,74 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor energi yang turun masing-masing sebesar 1,25 persen dan 1,02 persen.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.549.194 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,99 miliar lembar saham senilai 20,06 triliun rupiah. Sebanyak 299 saham naik, 349 saham menurun, dan 172 tidak bergerak nilainya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.