Danantara Optimis Demutualisasi akan Jaga Independensi dan Kepercayaan Pasar
Jumat, 06 Feb 2026, 01:10 WIBJAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menilai demutualisasi bursa dapat mengurangi konsentrasi kepemilikan serta mendorong penguatan, pendalaman, dan pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, pandangan tersebut didasarkan pada pengalaman berbagai bursa di negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan demutualisasi dan menunjukkan hasil yang konsisten serta positif.
âIni bagus karena sudah terbukti di banyak yang sudah negara maju. Jadi ini bagian yang natural untuk kita menjadi institusi yang lebih besar,â kata Pandu dalam forum IES 2026 di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa praktik demutualisasi di berbagai negara disertai pemisahan peran yang jelas antara pemilik hingga pengawas, sehingga meminimalkan potensi konflik kepentingan.
Di sejumlah negara, seperti Hong Kong dan India, investor institusional termasuk sovereign wealth fund (SWF) dapat menjadi pemegang saham. Namun, fungsi pengaturan dan pengawasan tetap sepenuhnya berada di tangan regulator.
Pengaturan seperti itu justru lebih baik karena menjaga independensi sekaligus memperkuat kepercayaan pasar, dibandingkan struktur lama yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Secara global, demutualisasi telah diterapkan oleh banyak bursa. Bursa Efek Australia (ASX) melakukannya pada 1998, sementara National Stock Exchange of India pada 1992 atau lebih dari 25 tahun lalu.
Pandu mencatat bahwa pengalaman internasional menunjukkan hasil yang berulang. Setelah demutualisasi, bursa menjadi lebih besar, lebih dalam, dan lebih kuat seiring waktu.
âInilah alasan mengapa Danantara menjadi pendukung kuat terhadap demutualisasi bursa efek,â katanya.
Selain memperkuat tata kelola melalui pengawasan yang lebih ketat hingga akuntabilitas yang jelas, demutualisasi juga dinilai meningkatkan integritas pasar lewat pembagian kewenangan yang tegas serta transparansi pelaporan.
Model ini turut membuka akses permodalan yang lebih luas, mempercepat pengambilan keputusan, serta memungkinkan pengembangan bisnis dan inovasi baru.
Ketika ditanya kapan proses demutualisasi rampung, Pandu menjelaskan bahwa kerangka undang-undang telah tersedia, sementara pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut melalui peraturan pemerintah (PP).
Proses demutualisasi diserahkan sepenuhnya kepada regulator, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tidak Terafiliasi
Direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudisthira yang diminta pendapatnya mengatakan proses demutualisasi bursa sebaiknya transparan tanpa melibatkan pemerintah dan Danantara.
âIntervensi terhadap saham BEI perlu dicegah, sehingga investor ritel dan institusional yang tidak terafiliasi pemerintah lebih proporsional dalam mengawasi bursa efek,â kata Bhima.
Dia pun mencontohkan praktik demutualisasi di sejumlah negara yang terbilang sukses karena tanpa intervensi pemerintah seperi di Kanada, Amerika Serikat (AS), United Kingdom (UK) dan Jerman. Setelah demutualisasi pemerintah lepas kendali dan tidak ada intervensi termasuk pemilihan direksi bursa.
- Danantara
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
-
Harga BBM Naik Akibat Perang Iran, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum
-
Panen Raya "Urban Farming" di Jaktim, Melon Inthanon Jadi Daya Tarik Utama
-
Posko mudik bertema Keraton Galuh di Ciamis
-
Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Serang Bertahan dengan Cara Pahit
-
Reformasi Investasi Danantara Dinilai Bisa Tekan Gelombang PHK
-
Tips Cegah Kebakaran Rumah Akibat Listrik Saat Ditinggal Mudik Ala Schneider Electric
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.