Bayar Utang dan Bela Rupiah, Cadangan Devisa Januari 2026 Ikut Terkuras

Jumat, 06 Feb 2026, 17:59 WIB

JAKARTA – Cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 tercatat menurun, terutama dipengaruhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.

Meski secara nominal turun, fungsi cadangan devisa tetap strategis sebagai bantalan makro, menahan volatilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan pasar.

Ket. Foto: Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja.

Penurunan ini mencerminkan trade-off kebijakan: menjaga stabilitas kurs dalam jangka pendek, sembari menuntut penguatan fundamental eksternal—terutama melalui surplus neraca perdagangan dan arus modal masuk—agar ruang stabilisasi tetap terjaga ke depan.

Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan cadangan devisa sebesar 1,9 miliar dolar AS menjadi 154,6 miliar dolar AS per akhir Januari 2026 yang dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sebelumnya pada akhir Desember 2025, cadangan devisa tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS. Bank Indonesia menyebut, posisi cadangan devisa Januari 2026 tetap tinggi.

“Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/2).

Ramdan menyampaikan posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2026 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Ramdan.

Ke depan, pergerakan cadangan devisa akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara kebutuhan stabilisasi rupiah, kewajiban eksternal, serta kemampuan ekonomi menarik kembali aliran modal dan menjaga surplus perdagangan.

Selama fundamental makro tetap terjaga, penurunan cadangan devisa bersifat sementara. Namun, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi kunci agar ruang intervensi tetap memadai dan kepercayaan investor tidak tergerus.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.