Pemerintah Kebut Hilirisasi Kelapa, Target Persiapan Rampung Desember

Selasa, 03 Feb 2026, 18:20 WIB

JAKARTA – Proyek hilirisasi kelapa merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Dengan pengembangan produk turunan seperti minyak kelapa, coconut sugar, hingga bahan baku industri pangan dan kosmetik, hilirisasi membuka peluang peningkatan pendapatan petani serta penciptaan lapangan kerja di daerah penghasil.

Ket. Foto: Kebun kelapa masyarakat di Inhil, Riau, yang menjadi penghasil kelapa terbesar di Indonesia. — Sumber: ANTARA/ Adriah

Namun, keberhasilan proyek ini sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan baku berkelanjutan, dukungan infrastruktur, dan akses pasar yang stabil.

Tanpa integrasi rantai pasok dan kepastian investasi, hilirisasi kelapa berisiko berhenti pada skala kecil dan belum mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan pemerintah membidik persiapan proyek hilirisasi kelapa dapat rampung pada Desember 2026.

“Ini juga yang kita dorong dan investasinya baru masuk, (kami) sedang melakukan konstruksi, yang di mana akhir tahun 2026, insya Allah itu akan selesai investasi di bidang pengelolaan kelapa ini,” kata Rosan Rosan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Selasa (3/2).

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, total realisasi investasi hilirisasi pada tahun 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau naik 43,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Hilirisasi berkontribusi 30,2 persen dari total realisasi investasi 2025, dengan sektor perkebunan dan pertanian menunjukkan tren kinerja yang positif.

Rosan menyampaikan, sektor ini berkontribusi sebesar Rp144,5 triliun pada tahun lalu, dengan kelapa menjadi salah satu komoditas hilirisasi yang cukup diminati setelah kelapa sawit, kayu log, karet, pala, kakao, dan lainnya.

Meskipun kontribusi investasi di sektor itu masih cukup jauh bila dibandingkan dengan mineral, yang menyumbangkan Rp373,1 triliun tahun lalu, Rosan menilai sektor perkebunan dan pertanian mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar.

“Investasinya dibandingkan mineral itu memang berbeda jauh, hanya 100 juta dolar AS, tapi penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 10 ribu orang,” ujar pria yang juga CEO BPI Danantara tersebut.

Sebelumnya, Rosan mengatakan nilai investasi hilirisasi kelapa yang sudah masuk mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,65 triliun. Proyek hilirisasi ini merupakan investasi dari China.

Ia mengatakan investasi ini diharapkan mampu memberi nilai tambah yang lebih luas bagi Indonesia, dengan bentuk penyerapan tenaga kerja hingga produk-produk turunan kelapa yang sangat variatif.

“Untuk tahun pertama, penyerapan tenaga kerjanya 5.000 orang. Nanti kalau sudah tahun depan, penyerapan kerjanya sampai 10.000 orang, dan ini produk turunannya (kelapa) sangat banyak,” kata Menteri Rosan di sela-sela acara Kompas100 CEO Forum di Indonesia Convention Center (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025).

“Nah ini yang kita lakukan biar value added-nya itu ada di kita. Nilai tambahnya ada di kita, penciptaan lapangan kerjanya ada di kita,” ujarnya menambahkan.

Ia juga mengatakan hilirisasi komoditas termasuk kelapa penting demi menciptakan nilai tambah atau nilai tukar bagi petani di berbagai daerah penghasil komoditas tersebut.

  • BKPM
  • hilirisasi kelapa

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.