Muara Gembong Darurat Banjir

Rabu, 21 Jan 2026, 05:05 WIB

BEKASI – Lebih dari 500 warga Muara Gembong, Bekasi, darurat bantuan. Mereka mendesak untuk dibantu karena terisolasi akibat tanggul Sungai Citarum dadal. Ratusan rumah di Kampung Bendungan, RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, menjadi “lautan.” Tanggul dadal atau jebol menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan rumah warga.

Peristiwa itu terjadi Selasa (20/1) dini harikarena debit Sungai Citarum meningkat signifikan akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Derasnya tekanan air membuat tanggul tidak lagi mampu menahan aliran sungai hingga akhirnya dadal. “Tidak lama setelah tanggul jebol, air langsung mengalir deras ke kawasan permukiman. Di sejumlah titik, ketinggian air bahkan mencapai sekitar satu meter, merendam rumah warga dan jalan utama desa,” kata warga setempat, Satibi (45), Selasa.

Ket. Foto: Warga Kampung Bendungan, RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi bergotong royong membendung tanggul jebol di aliran Sungai Citarum, Selasa dini hari. — Sumber: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah

Dia menuturkan, kondisi tanah di sekitar tanggul memang sudah rapuh sehingga mudah tergerus arus air. Selain itu letak tanggul yang berbatasan langsung dengan jalan raya membuat luapan air lebih cepat masuk ke area permukiman. “Tanahnya masih gembur. Begitu air naik, langsung terkikis dan air cepat mengalir ke kampung,” katanya.

Warga setempat inisiatif melakukan penanganan darurat dengan membendung aliran air menggunakan karung berisi tanah, pasir, serta bambu. Sebagian warga juga mengevakuasi anggota keluarga dan memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman. Selain merendam permukiman, banjir akibat tanggul jebol mengganggu aktivitas masyarakat karena jalan utama terendam. Ancaman juga membayangi sektor pertanian dan perikanan. Ribuan hektare tambak dan sawah dikhawatirkan mengalami gagal panen.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dody Supriyadi membenarkan peristiwa tersebut. Dia menyatakan, petugas masih menangani darurat di lokasi dengan membuat tanggul penahan sementara. Dody menyatakan, berdasarkan hasil mitigasi di lapangan, tanggul Sungai Citarum jebol sepanjang 8 meter. Ratusan rumah warga di Desa Pantai Bakti terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter.

500 Warga 

Menurut Dody, sebanyak 553 Kepala Keluarga (KK) di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, menjadi korban banjir akibat. “Banjir terjadi setelah debit Sungai Citarum meningkat yang menyebabkan tanggul penahan air jebol sepanjang kurang lebih delapan meter,” tandasnya.

“Peningkatan debit air Sungai Citarum mengakibatkan tanggul jebol. Air kemudian meluap dan menggenangi permukiman warga. Kondisi ketinggian air mencapai 60 centimeter,” katanya di Cikarang, Selasa. Berdasarkan hasil asesmen lapangan, ratusan kepala keluarga yang tersebar di lima kampung menjadi korban banjir. Mereka ada di kampung Bendungan, Kampung Gedung Cinde, Kampung Singkil, Kampung Gedung Bokor, dan Kampung Biyombong. Namun begitu, belum ada warga mengungsi.

Dody menjelaskan, ketinggian muka air di permukiman warga bervariasi antara 10 dan 60 centimeter. Warga memilih bertahan di rumah masing-masing sembari memantau kondisi air yang masih tinggi. BPBD Kabupaten Bekasi koordinasi dan mendata bersama aparat desa, RT/RW, serta unsur kewilayahan setempat. Selain itu, bantuan logistik juga telah disalurkan kepada korban. “Logistik yang kami kirimkan meliputi bronjong, karung, terpal, makanan siap saji, air mineral, serta paket sembako untuk kebutuhan dasar warga,” jelasnya.

Dody minta dibangun turap permanen sepanjang bantaran Sungai Citarum. Ini sebagai langkah mitigasi jangka panjang. “Kami masih menyiagakan personel di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan debit air,” tandas Dody.

Sebelumnya,Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menyebut, normalisasi  Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) menjadi solusi mengatasi persoalan banjir di wilayah Kecamatan Tambun Utara. Pada hari Senin (19/1) banjir di Tambun ini sempat dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Asep mengakui, banjir yang terjadi hampir setiap tahun di sini, maka memerlukan penanganan menyeluruh. Salah satunya melalui normalisasi Kali CBL sebagai solusi struktural jangka panjang. “Kalau tidak dinormalisasi, ya akan begini terus. Bukan hanya di Srimukti ini, tapi juga di Wanasari dan wilayah lain yang berhulu Kali CBL. Ini akibat belum optimalnya fungsi sungai sebagai saluran utama,” jelas Asep.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.